Senin, 26 Desember 2011

Pesona Kawah Putih







Kawah Putih yang memikat dan menyisakan beragam cerita mistis. Meski begitu tidak melunturkan semangat orang-orang yang ingin menyaksikan kemolekannya.Kawah putih berada di Jawa Barat tepatnya di Desa Sugih Mukti kecamatan Pasir Bambu.









Senin, 19 Desember 2011

Mak

oleh: Maya Dewi Kurnia
Makan malam ini kupikir akan menjadi makan malam yang berat buatku. Lama aku merencanakan agar malam ini aku mampu mengungkapkan isi hatiku kepada Mak.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Itu tandanya sebentar lagi Mak akan keluar dari kamarnya dan memasuki ruang makan kami yang alakadarnya. Ruangan berukuran 2x3 dengan dinding batu bata yang belum diplester sekaligus disesaki dengan perkakas dapur. Sudah menjadi kebiasaan  tepat pukul 7.05 menit kami makan malam. Diatas meja, nasi lengkap dengan lauk pauk tempe dan sambal terasi sudah terhidang.  Perlahan, sesosok tubuh yang kukenal keluar dari peraduannya lalu berjalan mendekati kursi reot yang berada disampingku. Ia menggesernya kemudian duduk.

Temaram lampu tidak mengaburkan pandanganku akan Mak. Kulitnya kuamati mulai mengendur, Tubuhnya pun tidak lagi gagah seperti tiga tahun lalu. 

Malam itu Mak makan sangat lahap. Tempe dan sambal terasi yang kubuat mampu mengeluarkan peluhnya namun ia sangat menikmatinya. " Enak masakanmu hari ini Midah, Mak suka," ujarnya sambil tersenyum.  

Lima belas menit berlalu, keheningan yang menjadi tradisi ketika makan berganti dengan keriuhan. Usai makan waktunya sesi berbagi cerita dimulai. Biasanya kami saling bertanya, mengutarakan pengalaman  selama satu hari itu dari menyenangkan hingga yang buruk. Tawa dan tangis menjadi hal yang lumrah ketika tradisi yang selalu dinantikan itu berlangsung.

Mak memulai ceritanya dari rempeyek yang ia buat laku terjual seluruhnya. Dia bersemangat dan mengatakan secara berulang bahwa yang memborong rempeyek buatannya seorang  pemuda tampan yang ingin menghadiahkan cemilan itu untuk ayahnya. Ekspresi wajah senang Mak berlanjut ketika ia memuji pemuda tampan yang terlihat sukses itu sangat memperhatikan orang tuanya.

"Mak pun ingin diperlakukan seperti itu," celetuknya tiba-tiba.  "Bukan harta yang Mak inginkan tapi perhatian saja cukup. Nanti kalau kau sudah menikah dan pergi dari rumah ini, sering-sering kau lihat Mak ya," lanjutnya. Mendengarnya seperti ada batu besar yang menimpaku.  Seluruh tubuhku mengeras kaku.

Kebimbangan mendera. Aku ragu untuk menjalankan niatku semula. Aku terdiam sesaat.
" Midah, kenapa kau diam," tegur Mak.
" Midah, oh Midah kau melamun," sambungnya.
" Tidak Mak," ucapku terkejut .
" Sekarang giliranmu menceritakan pengalaman hari ini,," ujarnya lagi.
" Mak," panggilku lembut
" Mak, bolehkah Midah bilang sesuatu," tanyaku ragu
" Bilanglah, jangan kau takut," balasnya
Mak sepertinya tahu betul wajah bimbangku. Tatapan matanya yang terus tertuju ke arahku dan justru makin membuatku tak kuat berkata. " Tuhan bantu aku mengungkapkan kejujuran dan keinginan hatiku kepada Mak," lirihku dalam hati.
" Mak, boleh Midah kerja," tanyaku
" Bolehlah, bukankah kau sekarang sudah bekerja," ucap Mak.
" Kerja di luar negeri maksudku Mak," kataku

Mak yang semula ingin menyeruput teh manisnya tiba-tiba berhenti. Ia melongoh, diletakannya kembali gelas yang sedari tadi dipegangnya.  Wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan ekspresi senang atau pun sebaliknya. Entahlah aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mak saat itu. Sepuluh menit kami hanya saling pandang. Aku menangkap ada amarah yang tertahan dari mata Mak. Di luar suara jangkring mengerik, angin berdesir kencang suasana pun dirasa makin sepi dan dingin. Dan  Mak masih bertahan dalam diamnya. Mak yang tadi garang melihat ku lambat-lambat menunduk.

"Mak, setujunya kalau Midah kerja di luar negeri?, " tanyaku pelan
" Mak, jawab Mak," ujarku memaksa.
"Kenapa harus keluar negeri kau bekerja, bukankah disini kaupun bekerja Midah, - tanya Mak gemetar.

"Aku memang disini bekerja tapi penghasilanku kecil Mak. Aku ingin membelikan Mak rumah yang layak, aku ingin bisa membawa Mak naik haji. Aku ingin Mak bisa menikmati masa tua dengan senang sehingga tidak peru repot berkeliling kampung menjual rempeyek. Aku ingin membahagiakan Mak," ujarku tanpa jeda. Hasrat yang membuncah membuatku berani mengutarakan semuanya kepada Mak. Meski setelah itu jantungku berdegup kencang dan air mata mengalir deras di pipi.

Mak tiba-tiba bangkit dan berujar," Kau tahu Midah,  aku puas dengan keadaan yang ada".
Mak menutup pembicaraan tersebut dengan sebuah kalimat yang singkat dan pergi meninggalkanku. Ia memilih berjalan ke kamar lalu berbaring di atas kasur yang penuh dengan gumpalan kapas.

Mak menutup matanya dalam. Ia berharap bisa menahan laju air mata. Sayang, air mata itu terus mengalir membanjiri bantal dan pakaian lusuh Mak. Mak berharap bisa segera tertidur dan melupakan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun pikirannya melayang 23 tahun silam, saat pertama Midah hadir di tengah kehidupannya. Ia lahir setelah dua tahun perkawinan Mak dengan seorang pria sederhana bernama Rasyid. Kehadiran Midah melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Meski dengan kesederhanaan tapi Midah dirawat dengan kasih sayang dan perhatian. Empat tahun setelah kehadiran Midah, Rasyid suami Mak meninggal akibat sakit lever.

Sejak itu kehidupan dirasa makin sulit, Mak berjuang sendiri untuk membesarkan Midah dan menyekolahkannya sampai SMA. Keduanya sangat dekat, mereka melalui cerita indah dan sedih bersama.

Kini, tiba-tiba Midah ingin meninggalkannya. Mak belum bisa mengerti alasan Midah ingin pergi bekerja di luar negeri. " Mak tidak meminta apapun dari Midah, Mak cuma ingin bersamamu," lirih mak. Tapi Mak tahu betul keinginan dan watak anak semata wayangnya.

Midah masih setia di bangku tempat semula ia duduk. Matanya mulai membengkak karena sedari tadi menangis.

"Aku tahu Mak tidak menyetujui keinginanku tapi aku sudah tidak mungkin mundur. Aku sudah mendaftar. Tanpa sepengetahuan Mak aku sudah menyerahkan tabunganku untuk mendaftar menjadi tenaga kerja Indonesia. Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk bekerja di luar negeri," ujarnya dalam hati.

***

Hari ini tepat jam 10 pagi Midah akan meninggalkan kampungnya dan bertolak ke Jakarta. Rencananya seminggu di Jakarta Midah langsung dibawa ke Jeddah, Arab Saudi.
Semua sudah dimasukan Midah, jangan ada yang ketinggalan. Mukena, dan sajadah sudah kau masukan ke tasmu?" tanya Mak.

Jangan tinggalkan sholatmu ya? Baik-baik kau disana," ujar mak lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Midah tinggalkan hp ini untuk Mak. Jadi Midah bisa menghubungi Mak kapan saja, Mak baik-baik ya, jaga kesehatan Mak, Midah akan kembali. Maafkan Midah Mak," ungkapnya berhadapan dengan Mak. Mereka saling menatap.

Keduanya berpelukan. Midah pun tak kuasa menahan air matanya.
Dari luar terdengar suara orang mengetuk pintu. "Asalamualaikum. Apa betul ini rumah Midah Al Rasyid," tanya pria di luar.

" Walaikumsalam", Jawab Midah.
Midah ternyata mengenali pria berkumis yang berdiri di pintu rumahnya. Ia adalah salah satu pegawai dari perusahaan penyalur tenaga kerja yang akan memberangkatkan Midah ke luar negeri.

"Mak, Midah berangkat ya?", ujarnya sambil mencium tangan Mak.  Ada perasaan yang tidak mengenakan tiba-tiba menyergap  hatinya. Namun ia berusaha melangkah keluar rumah dengan percaya diri. Dari kejauhan ia mengamati tubuh mungil Mak yang berdiri sambil melambaikan tangan. Teringat masa indah saat tidur bersama Mak. Midah memeluknya erat, mencium aroma minyak goreng yang selalu membuatku rindu. "Akh Mak, semoga kita bertemu lagi," ungkapnya dalam hati.
****

Kring.kring..suara hp berdering nyaring.
" Assalamualaikum. Mak, sedang apa? Ini Midah mak. Bagaimana keadaannya Mak?," suara dari seberang telepon menyapa.

" Oh kau Midah, senang mak mendengar suaramu," jawab Mak.
Keduanya larut dalam percakapan yang hangat. Mereka saling melepas rindu. Midah bersemangat menceritakan pengalamannya di Jeddah. Ia mengatakan pada mak majikan tempat ia bekerja baik. Mendengar cerita Midah mak jadi lega. 

Tak terasa sudah 20 menit berlalu dan Midah bergegas menutup telepon. Sebelum pembicaraan dihentikan Mak  berpesan," jaga dirimu Midah, jangan lupa sholat. Mak merindukanmu". Mak menutup telepon dengan tersenyum, kegembiraan tergambar jelas dari wajahnya. Di bulan keempat Midah di Jeddah, ia menghubungi Mak lagi.

Pembicaraan keduanya berlanjut. Sesekali Mak tertawa hingga dari seberang telepon tiba-tiba Midah mengatakan, "Mak, gaji Midah selama disini sudah Midah kirim, tolong disimpan. Oia, bulan depan Midah akan jarang menelpon Mak. Midah sedang banyak kerjaan, Mak jangan khawatir ya". Raut wajah Mak berubah. " Iya Midah, tak apa, Mak selalu mendoakanmu, Nak. Jaga dirimu. Mak akan menunggumu disini?" ujarnya lagi. Sejenak pembicaraan berhenti.
"Midah menyayangi mak," ujar Midah.

Kalimat itu berat dirasa oleh bagai sebuah pertanda buruk. Tapi Mak berusaha menepis kegalauan hatinya. Tiga bulan berlalu Mak mulai cemas. Midah tidak pernah menghubunginya, Mak juga tidak bisa menelponnya.

Sampai sebuah tayangan di televisi menyebutkan salah satu tki ditemukan di jembatan Kandara, Jeddah tewas mengenaskan dengan tubuh lebam. Kecemasannya makin menjadi tatkala dalam tayangan berita itu ditampilkan sebuah foto wanita tak berkerudung yang mulai usang dan mak mengenalinya sebagai Midah. Mak berurai air mata. Ia menangis. Hatinya hancur. Sebuah kalimat terlontar " Mak menyayangimu Midah,". (terbit 18 Desember 2011 di harian Medan Bisnis)
0

Selasa, 06 Desember 2011

Juara

oleh: Fahd Djibran
Kebahagiaan adalah soal bagaimana kita menjadi juara bagi diri kita sendiri. Maka, jadilah juara bagi dirimu sendiri. Yakinlah, teruslah melangkah, jangan biarkan dirimu dikalahkan rasa takut dan ragu. Sebab, setiap orang adalah juara bagi dirinya sendiri.

Jumat, 02 Desember 2011

Hidup

Kau kecewa hari ini nak, kau merasa kalah hari ini? Kau merasa hidupmu tidak sehebat yang kau bayangkan. Tenanglah nak, hidup tidak melulu tentang kebahagiaan.Kadang-kadang kita lupa bahwa saat kita merasa kalah dan kecewa sesungguhnya merupakan saat terkuat kita.

Selasa, 29 November 2011

Impian Sederhana

Impianku sederhana saat ini hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf pada sebanyak orang yang pernah kukenal dalam hidupku pada siapapun terutama ayah dan ibu. Terima kasih untuk hal-hal yang tak terkatakan dan maaf untuk hal-hal yang tak sanggup kujelaskan melebihi apapun.

Nasib

oleh: Maya Dewi Kurnia

Nasib seringkali tidak seperti tanda titik yang pasti melainkan kalimat yang menggantung.

Pergi

Bila aku pergi, aku berada di dunia kita masing-masing. Aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu. Tapi percayalah sebenarnya aku selalu bersama denganmu hanya mungkin kita tak melihat bulan yang sama dari balkon yang sama. Hidup memang seringkali harus dilanjutkan dengan cara yang tidak diinginkan.

Selasa, 01 November 2011

Tragedi Kamar Mandi

oleh : Maya Dewi Kurnia

Liburan kali ini memang sudah lama dinantikan Susi. Ia bahkan sudah membuat agenda liburan lengkap dengan daerah tujuan wisatanya. Disaat sebagian orang memilih berlibur ke tempat yang lebih tenang dengan pemandangan alam yang bagus seperti Lombok, Bunaken, Susi justru memilih berlibur ke Jakarta. Pilihan  itu bukan tanpa sebab karena terkait dengan keuangan. Kebetulan dari tempat tinggal Susi ke Jakarta tidak terlalu jauh butuh waktu sekitar 3 jam, biayanya juga bisa dijangkau. Soal tempat tinggal pun ia tidak perlu bingung lantaran ada sahabat yang siap menampung kedatangannya.
 
Meski Jakarta dekat dengan tempat tinggalnya tapi Susi baru pertama kesana. Kedatangannya kali ini adalah yang kedua. Berbagai persiapan ia lakukan tidak terkecuali menyiapkan obat anti mabok dan kantong plastik. Maklumlah ia acapkali muntah bila naik kenderaan  besar seperti bus.
 
Tiga jam berlalu akhirnya ia sampai di ibukota Negara, Jakarta. Lagi ia terpana dengan bangunan mewah yang menghiasi Jakarta. Telpon selulernya tiba-tiba berdering. Susi mengangkatnya kemudian berbicara dengan orang diseberang telpon. Ternyata, sahabatnya sedang memberikan petunjuk jalan menuju kantornya.

Setelah berganti dari satu bus way ke busway berikutnya, Susi pun sampai di kantor sahabatnya. Sebuah kantor media ternama di Jakarta. Kantor dengan desain yang menarik dan kesibukan orang-orang di dalamnya yang sungguh membuat ia terpana. Lambat ia memperhatikan sekeliling kantor hingga ia tidak mendengar ada orang menyebut namanya. Suara yang ia hafal betul.

Dari arah belakang, seseorang menepuk pundaknya dan berkata,” Akhirnya kamu tiba juga disini Sus”. Susi menoleh, keduanya berpelukan erat. “ Sus, aku kan pulang jam 5, sekarang masih jam 3 sore. Kamu nunggu di lobi aja ya, gimana Sus,” ujar Nita.

Susi mengangguk seolah mengamini. Sambil membaca majalah ia duduk di sebuah sofa empuk berwarna abu-abu di lobi kantor. Ia amat menikmati bacaan dan situasi di sekitarnya. Secangkir teh pun tak luput menjadi temannya.  

Saat ia sedang asyik membaca, tiba-tiba ia ingin ke toilet untuk buang air kecil. Karena buru-buru ia tidak memperhatikan keberadaan air, ember dalam toilet. Setelah usai BAK baru ia sadar dan kebingungan pun mengampirinya. Tapi Susi tidak kehilangan akal. Ia memutar sebuah tombol yang ada pada dinding kloset.

" Aduh," teriaknya kaget. Air menyemprot celana dalamnya. Ternyata dari dalam kloset ada sebuah pipa yang mampu mengeluarkan air bila tombol pada dinding kloset diputar. Fungsinya untuk membersihkan diri usai BAK. Namun karena tidak mengetahui cara pakainya alhasil Susi basah kuyub terutama celana dalamnya. Susi akhirnya melepas celana dalamnya, dan hanya memakai jeans. 

Seolah tidak terjadi apa-apa, Susi kembali ke lobi dan melanjutkan aktivitas sebelumnya. Lima menit pertama Susi tidak mengalami masalah, namun lima menit berikutnya, perutnya terasa kembung. Ac yang menyala kencang membuat ia kedinginan. Semua baru teratasi ketika jam pulang kantor tiba, Nita menemaninya membeli celana dalam baru.

Rabu, 28 September 2011

R I N D U

Bintang tidak muncul malam ini serupa bulan yang masih malu-malu bersembunyi di balik awan. Di luar sana hiruk pikuk orang lalu lalang bersamaan dengan deru kenderaan yang menggaduh. Sementara aku hanya termangu sendiri sambil mengamati tiap sudut ruangan 3x3 m. Ada kehampaan menyergap.Hmm..andai malam ini kau ada disini tentu ceritanya akan berbeda. Lintang, ibu rindu nak.

Selasa, 27 September 2011

Merantau Tradisi Minang Yang Abadi

oleh Maya Dewi Kurnia


Jangan heran bila melihat rumah makan padang  ada di Cirebon, Balikpapan bahkan Papua. Di luar negeri seperti Australia pun rumah makan padang telah berdiri. Ini seolah mempertegas  eksistensi masyarakat minang di pelosok negeri.
Berpindah dari kampung halaman ke daerah lain dalam tradisi masyarakat minang bukan hal yang baru. Tradisi yang tumbuh dan berkembang sejak berabad silam dikenal dengan nama merantau. Salah satu pantun yang menguatkan keunikan tradisi ini berbunyi:

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau Bujang dahulu
Di kampuang baguno balun


(Keratau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau Bujang dahulu
Di kampung berguna belum)

Pantun ini mengungkapkan bahwa dalam  konsep budaya alam  minang dikenal wilayah  inti dan rantau. Rantau secara tradisional merupakan wilayah ekspansi, daerah perluasan. Seiring perkembangannya konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan yang lebih cemerlang dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Merantau pada dasarnya memiliki tiga tujuan penting yakni mencari harta(berdagang), mencari ilmu, atau mencari pangkat.
Dalam alam pikiran masyarkat minang, kampung halaman atau tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit. Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah. Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh asal minang yang berkiprah di “dunia” yang jauh lebih luas seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan lahir, tumbuh, mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan “menjadi orang”.
Tradisi merantau nyatanya tidak saja dilakukan oleh masyarakat minang tapi juga suku lain seperti batak, bugis, madura. Namun merantau masyarakat minang berbeda dengan suku lainnya. Masyarakat minang merantau dengan kemauan dan kemampuan sendiri. Mereka yakin proses ini semacam penjelajahan hijrah untuk membanngun kehidupan yang lebih baik. Keyakinan inilah yang membuat mereka bertahan di rantau bahkan menjadi lebih besar. Selain itu juga didukung oleh kemampuan masyarakat minang yang tinggi dalam beradaptasi dengan lingkungan ditambah kemampuan berkomunikasi yang baik. Ini sesuai dengan ungkapan yang merupakan falsafah hidup masyarakat minang “ di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung atau di kandang kambing mengembek, di kandang kerbau mengo’ek”.
            Sepanjang sejarahnya, orang Minang di perantauan tidak pernah terlibat konflik dengan masyarakat di manapun mereka berada. Ini karena budaya dan perilaku hidup mereka yang yang terbuka, tidak eksklusif, dan hidup membaur dengan masyarakat setempat. Di mana pun rantaunya, orang Minang tidak pernah membuat “kampung”. Tidak ditemukan ada Kampung Minang di kota-kota di mana perantau Minang jumlahnya cukup banyak. Sebaliknya, di kampung halamannya sendiri mereka memberikan “kampung” kepada para pendatang, termasuk kepada orang Cina. Di Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh ada Kampung Cino (Cina), di Padang dan Solok ada Kampung Jao (Jawa), atau Kampung Keling di Padang dan Pariaman.
             Karena daya adaptasi, kemampuan menyesuaikan diri, yang tinggi itu, mereka pun diterima oleh masyarakat di mana mereka berada. Mereka diterima menjadi pemimpin formal maupun informal di rantaunya masing-masing. Sebutlah, misalnya, Mr. Datuk Djamin yang menjadi Gubernur Jawa Barat yang kedua (1946);  Gubernur Maluku yang kedua dan ketiga, yakni Muhammad Djosan (1955-1960)
 Tahun berganti, zaman berubah namun tradisi syarat makna tersebut masih tetap berlangsung hingga sekarang. Generasi minang masa kini toh nyatanya berlomba-lomba melakoninya. Semoga tradisi ini membuat kita tidak melupakan kampung halaman sebagai tempat awal kita berpijak.

Kearifan Lokal Dalam Sepotong Rendang

oleh : Maya Dewi Kurnia

Siapa yang tidak mengenal rendang?  Makanan khas minang dengan potongan daging berbumbu dengan citarasa pedas ini amat terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Banyaknya rumah makan padang yang menyediakan menu ini turut berperan mempopulerkannya.  
Menurut Cable News Network di Amerika Serikat dan dilansir oleh laman www.cnngo.com, hidangan  racikan urang awak ini mendapati peringkat 11 dari  50 daftar makanan terenak  di dunia.
Bila ditelusuri sejarah kehadiran rendang sudah lama ada namun belum jelas tahun munculnya. Hanya dalam Hikayat Amir Hamzah tahun 1550, rendang sudah disebut. Ini bukti rendang pun akrab dalam lingkungan kerajaan dan masyarakat melayu.  
Menurut jenisnya rendang dibagi menjadi  tiga. Ada rendang darek, rendang bukik dan rendang payakumbuh. Perbedaan itu berangkat dari nama daerah rendang itu dibuat. Masing masing daerah memiliki cara pengolahan dan penampilan yang unik. Rendang darek misalnya memiliki warna hitam.
Darek (atau ‘darat’ dalam bahasa minang) merupakan sebutan wilayah perbukitan di minangkabau. Wilayahnya mencakup beberapa kabupaten/kota yang berada di kaki bukit barisan, seperti Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan wilayah sekitarnya. Di minangkabau, darek juga biasa disebut Luhak Nan Tigo (luhak yang tiga). Wilayah darek adalah tempat berasalnya adat minang.
Dalam perkembangan adat mingkabau dan islam, rendang telah memberikan andil. Rendang bahkan menjadi penanda pertemuan dua kutub tersebut. Islam datang dari pesisir pantai barat. Sedangkan adat minang berangkat dari darat. Perjumpaan ini menghasilkan falsafah yakni “syara mandaki, adat manurun “ ( agama mandaki, adat menurun). Hal ini bermakna bahwa agama islam yang berasal dari pesisir mengalami perkembangan dengan mendaki ke darat. Sedangkan adat minangkabau yang berasal dari darat bergerak “menurun” kearah pesisir. Pertemuan adat minang dan islam inilah yang kemudian menghadirkan falsafah ” adat basandi syara’, syara’basandi kitabullah” (adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah)
Rendang memang telah menjadi simbol peralihan kultur masyarakat minang yang hidup di pesisir pantai barat Sumatera yang semula lebih kerap menyantap ikan dibandingkan daging. Rendang pun telah menjadi santapan komunal masyarakat minangkabau dimanapun berada terlebih ketika perayaan besar berlangsung seperti Idul Fitri, Idul Adha. Sedangkan dalam baralek (pesta pernikahan) rendang menjadi kapalo samba (lauk utama) yang disiapkan para mande (ibu).
Namun lebih daripada itu, rendang menjadi identitas masyarakat minagkabau. Sebab tiap unsur dalam rendang bermakna dan merepresentasikan elemen dalam masyarakatnya.  Dagiang (daging) sebagai lambang ninik mamak (para pemimpin adat), karambia (kelapa) sebagai lambang cadiak pandai (kaum intelektual), lado (cabe) sebagai lambang alim ulama yang pedas dan tegas, serta pemasak (bumbu) sebagai pelengkap yang merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat minang. Mereka mempercayai bahwa untuk menciptakan kesejahteraan, dibutuhkan perpaduan empat unsur itu secara seimbang.
Oleh karena itulah sudah sepatutnya generasi muda minangkabau tetap melestarikannya. Tidak sekedar menyediakannya dalam sebuah perhelatan lalu menyantapnya tapi menyadari betul hakikat dari rendang.

Selasa, 13 September 2011

Pulang

Banyak kenangan terkubur disana bukan saja yang menyenangkan, tapi juga memilukan tidak terkecuali doa dan harapan yang pernah kutanam. Kini setelah sekian lama ku berjalan ku merindukannya. Merindukan rumah dengan senyum hangat dari ayah dan ibu yang menyambut kedatanganku. Dan aku ingin pulang meski kutahu semua telah berubah.

Rabu, 22 Juni 2011

Sambal Teri Cabe Hijau

Bahan:
200 gr teri
Minyak goreng secukupnya
2 sdm minyak goreng
10 mata petai, belah dua
2 cm lengkuas, memarkan
2 lembar daun jeruk
Garam, gula pasir secukupnya


Bumbu :
10 buah cabai hijau
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih

Cara Membuat:
1**Cuci bersih teri, goreng hingga matang dan kering. Angkat, tiriskan
2. *Tumpuk kasar semua bahan bumbu
3* *Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bumbu, lengkuas, daun jeruk hingga harum
4**Masukkan petai, aduk rata. Tambahkan teri, garam, gula pasir. Masak hingga matang. Angkat, sajikan


Selasa, 21 Juni 2011

Sarden Pedas Mantap

Bahan:
-1 Buah kaleng ikan sarden ukuran sedang
-1 Siung bawang bombay ukurang kecil, iris kasar
-2 Siung bawang putih, iris kasar
-2 Cm jahe, memarkan
-8 Buah cabe merah, potong serong
-8 Buah cabe hijau, potong serong
-15 Buah cabe rawit merah,potong kasar
-Daun bawang sesui selera, potong kasar
-2 Sdm saus tomat
-Garam dan lada sesuai selera
-Minyak untuk menumis
-1 Sdm margarin

Cara Membuat:
*Panaskan margarin, tuang sedikit minyak untuk menumis. Lalu masukan bawang bombay dan bawang putih. *Kemudian irisan cabe merah, cabe hijau, cabe rawit dan jahe. Saat aroma menyeruak masukan lada dan ikan sarden.
*Tuang saus tomat aduk hingga rata. Jangan lupa masukan daun bawang, garam. Tunggu hingga semua matang dan angkat. Hidangan siap disajikan.

Senin, 20 Juni 2011

Tumis Pindang Tongkol Kemangi

Bahan:
-1/4 Kg Ikan pindang tongkol
-3 Sendok makan minyak untuk menumis
-2 Lembar daun jeruk
-1 Cm jahe memarkan
-1 Cm lengkuas memarkan
-1 Batang serai memarkan
-1 Sendok makan perasan jeruk nipis
-Daun Kemangi sesuai selera

Bahan Tumbuk Kasar
-10 Buah cabe merah
-6 Buah cabe rawit merah
-1/2 Makan terasi
-4 Siung bawang merah
-garam dan gula sesuai selera


Cara Membuat:
*Cuci bersih ikan pindang suwir-suwir kasar dagingnya
*Panaskan minyak,tumis bumbu tumbuk kasar bersama daun jeruk, jahe, lengkuas dan serai hingga matang
*Masukan daging ikan suwir, aduk rata. Kemudian masukan air jeruk nipis dan daun kemangi. Aduk rata, angkat dan sajikan.

Selasa, 14 Juni 2011

Terung Sambal Dibaluri Teri Medan

Bahan :
-3 buah terung ungu
-teri 1 ons
-8 buah cabe merah atau sesuai selera
-2 siung bawang merah
-1/2 potong tomat
-minyak sayur
-garam dan gula sesuai selera


 

Cara Membuat
*Teri digoreng lebih dulu
*Terung juga digoreng hingga warnanya kecoklatan
*Cabe merah, bawang dan tomat dihaluskan kemudian dimasak dengan minyak panas, aduk hingga matang.
*Masukan teri dan terung yang sudah lebih dulu digoreng, beri garam dan sedikit gula.Aduk sebentar dan angkat.

Rabu, 25 Mei 2011

Generalisasi Penelitian Sejarah

 Disusun oleh Maya Dewi Kurnia

1.Pendahuluan
Penelitian ilmiah secara umum dibedakan menjadi dua jenis yakni kualitatif dan kuantitatif. Dalam laporan ini penulis akan membahas sekelumit tentang  penelitian kualitatif yang merupakan payung dari penelitian historis. Lexy J. Moleong (2004: 6) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan,dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian ini hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Dilihat dari proses kerjanya peneliti kualitatif banyak persamaan dengan detektif atau mata-mata, penjelajah, atau jurnalis yang juga terjun ke lapangan untuk mempelajari manusia tertentu dengan mengumpulkan data yang banyak. Tentu saja yang dilakukan ilmuwan lebih cermat, formal dan canggih.
Seorang peneliti yang melakukan penelitian kualitatif memiliki tujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang suatu masalah. Oleh karena itulah peneliti harus mempunyai human instrument. Artinya peneliti harus memiliki kompetensi keilmuwan disiplin ilmu tertentu, mempunyai prinsis-prinsip teori dan wawasan luas. Selain itu juga peneliti harus memiliki kemampuan bertanya yang tinggi dan mampu menganalisis data yang baik. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian ini memerlukan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan informasi yang mendalam.
Salah satu bagian dari penelitian kualitatif adalah penelitian historis. Penelitian ini biasa dipakai dan popular pada bidang sosial.
Berbicara mengenai penelitian historis tidak bisa lepas dari kata historis yang berarti sejarah dalam bahasa Indonesia. Joan Scoot  dalam Denzim (2009:409) mengutarakan sejarah yang saya maksud di sini bukan tentang apa yang terjadi bukan tentang kebenaran yang ada di luar sana sehingga perlu ditemukan dan dikabarkan akan tetapi pengetahuan kita tentang masa lalu tentang tata aturan dan konvensi yang mengendalikan produksi dan keberterimaan pengetahuan yang kita anggap sebagai sejarah. John W. Best dalam Zuriah (2005:51) mengatakan sejarah merupakan rekaman prestasi manusia. Bukan semata-mata daftar rentetan peristiwa secara kronologis melainkan gambaran mengenai berbagai hubungan yang benar-benar manunggal antara manusia, peristiwa, waktu dan tempat.
Sejarah adalah topik ilmu pengetahun yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan , dan hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah Negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam sepanjang zaman.
Inilah sebabnya penelitian sejarah penting dibahas dan dilakukan tak lain karena salah satu tujuannya untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang dengan berpijak pada peristiwa masa lalu.

2. Definis Penelitian Sejarah
Menurut Jack. R. Fraenkel & Normamen E. Wallen  dalam Zuriah (2005:51) penelitian sejarah adalah penelitian yang secara eksklusif memfokuskan kepada masa lalu. Jack R. Fraenkel & Normamen E. Wallen (2008: 535) juga menjelaskan penelitian sejarah merupakan pengumpulan yang sistematis dan evaluasi data untuk menggambarkan, menjelaskan, dan dengan demikian memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi kadang-kadang di masa lalu.
Nawawi (1993 :78) berpendapat metode penelitian sejarah adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu atau peninggalan-peninggalan, baik untuk memahmi kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu terlepas dari keadaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan masa sekarang dalam hubungannya dengan kejadian atau keadaan masa lalu, selajutnya kerapkali juga hasilnya dapat dipergunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang.
Adapun Gay (Sukardi, 2007 : 203) mengatakan bahwa penelitian sejarah merupakan suatu penelitian mengenai pengumpulan dan evaluasi data secara sistematik berkatian dengan kejadian masa lalu untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan penyebab, pengaruh atau perkembangan kejadian yang mungkin membantu dengan memberikan informasi pada kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang. Menurut Sukardi (2007: 203), penelitian ini penting terutama untuk menggambarkan atau memotret keadaan atau kejadian masa lalu yang kemudian digunakan untuk menjadi proses pembelajaran masyarakat sekarang.
Sementara Donald Ary dalam Zuriah (2005:51) menyatakan penelitian sejarah adalah usaha untuk menetapkan fakta dan mencapai simpulan mengenai hal-hal yang telah lalu, yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masa lalu. Dengan kata lain penelitian dengan menggunakan metode sejarah yakni penyelidikan kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pengalaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. Singkatnya definisi penelitian sejarah adalah penelaahan sumber-sumber lain yang berisi mengani informasi tentang masa lampau dan dilaksanan secara sistematis.
Penelitian sejarah mencoba merekonstruksi yang terjadi pada masa yang lalu lengkap dan akurat. Kemudian menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Rekonstruksi masa lalu tersebut dibuat secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensintesiskan bukti-bukti untuk mendukung fakta sehingga memperoleh kesimpulan yang kuat.
Penelitian ini menghubungkan manusia, peristiwa, waktu dan tempat secara kronologis dengan tidak memandang sepotong objek-objek yang diobservasi. Terkadang dalam praktiknya penelitian sejarah digunakan untuk menguji hipotesis.

3. Ciri-Ciri Penelitian Sejarah
Dilihat dari definisi diatas, penelitian historis memiliki ciri-ciri. Narbuko dan Achmadi (2003 :42) mengutarakan ciri-ciri penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Lebih bergantung kepada data yang dioberservasi penelitian sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermant yang menganalisis keautentikan, ketetapan dan pentingnya sumber-sumbernya.
2.   Haruslah tertib,sistematis dan teratur.
3.   Tergantung dua data yaitu data primer dan data sekunder
4.   Menghendaki kritik untuk memeroleh kualitas data. Ada dua macam ktirik yaitu (1) kritik eksternal menanyakan apakah data itu otentik atau tiruan dan apabila otentik apakah relevan serta akurat dan (2) kritik internal yaitu kritik yang menguji moti, objektifitas dan kecermatan peneliti terhadap data yang diperoleh. Dengan kritik ini penelitian historis akan lebih ketat, sistematis dan objektif.
5.   Menggunakan pendekatan yang lebih utama dan dapat menggali informasi yang lebih tua dibanding penelahaan pustaka
Bukan itu saja, penelitian historis juga memiliki unsur pokok. Zuriah (2005:51) membagi unsur pokok tersebut menjadi beberapa bagian yaitu adanya proses pengkajian peristiwa atau kejadian masa lalu, usaha dilakukan secara sistematis dan objektif, serentetan gambaran masa lalu yang integratif antara manusia, peristiwa, ruang dan waktu, terakhir dilakukan secara interaktif dengan gagasan, gerakan dan intuisi  yang hidup pada zamannya.


4.Jenis penelitian historis
Penelitian historis secara umum dibagi menjadi 4 jenis.
1.Penelitian sejarah komparatif
Penelitian dengan metode yang dikerjakan dengan membandingkan faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau. Misalnya peneliti ingin membandingkan pengajaran di cina dan di jawa pada masa kerajaan majapahit.
2.Penelitian yuridis
Penelitian dengan metode sejarah diinginkan untuk menyelidiki hal-hal yang menyangkut dengan hukum baik hukum formal maupun hukum nonformal pada masa lalu.
3.Penelitian biografis
Metode sejarah yang digunakan untuk meneliti tentang kehidupan seseorang dan hubungannnya dengan masyarakarat. Dalam penelitian ini diteliti mengenai watak, sifat-sifat, pengaruh baik lingkungan maupun pengaruh pemikiran ide-ide dari subjek penelitian dalam masa hidupnya serta pembentukan watak figure yang diterima selama hayatnya.
4.Penelitian bibliografis
Penelitian dengan metode sejarah untuk mencari, menganalisa, membuat interpretasi, serta generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis oleh pemikir dan ahli-ahli. Kerja penelitian ini termasuk menghimpun karya-karya tertentu dari seorang penulis atau filosof dan menerbitkan kembali.
Sementara Nawawi (1993: 81) membagi penelitian historis menjadi 4 bagian yakni penelitian komparatif, yuridis, bibliografis dan kronologis.

5.Tujuan Penelitian Sejarah
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan karena tanpa tujuan sebuah penelitian tidak akan berarti dan kebergunaannya bagi masyarakat menjadi hambar. Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen (…534) mengungkapkan tujuan penelitian sejarah untuk :
1.   Membuat orang menyadadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau
2.   Mempelajari bagaimana sesuatu telah dilakukan pada masa lalu, untuk melihat jika mereka dapat mengaplikasikan masalahnya pada masa sekarang
3.   Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang
4.   Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau kecendrungan
5.   Memahami praktik dan politik pendidikan sekrang secara lebih lengkap.
Sementara menurut Narbuko dan Achmadi (2003: 42) tujuan penelitian historis untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi dan memverifikasi serta mensistematiskan bukti-bukti menegakkan fakta dan memeroleh kesimpulan yang kuat, dihubungkan dengan fakta yang ada pada masa sekrang dan proyeksi masa depan. Dengan demikian jelas bahwa penelitian sejarah tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan masa kini dan masa mendatang.

6. Sumber Data
Penelitian sejarah memiliki dua sumber data yakni sumber data primer merupakan cerita  atau penuturan atau catatan saksi mata tentang terjadinya suatu peristiwa. Dokumen yang termasuk sumber primer adalah undang-undang dasar, piagam. Sedangkan barang peninggalan yang menjad sumber primer misalnya fosil, kerangka, perkakas. Kesaksian lisan dari saksi saat peristiwa terjadi juga termasuk dalam sumber data primer. Sumber lainnya yakni sumber data sekunder yaitu cerita atau penuturan mengenai suatu peristiwa yang tidak disaksikan langsung oleh pelapor melainkan semata-mata melaporkan apa yang dituturkan atau ditulis oleh orang yang menyaksikan peristiwa itu. Buku teks sejarah dan ensiklopedia adalah contoh sekunder karena ditulis selang beberapa lam setelah terjadinya peristiwa yang sebenarnya.
Melihat dari klasifikasi data yang telah dikemukakan, ada tiga proses penting yang harus dilalui dalam penelitian sejarah (Nawawi, 1993 : 80-81), yaitu sebagai berikut:
1.Pengumpulan data, dengan menetapkan sumber data dan membedaknnya dalam kategori data primer atau data sekunder yang harus dilakukan dengan system pencatatan yang relevan
2. Melakukan kritik terhadap data yang tersedia,yakni melalui kritik intern dan kritik ektern
3.Penyusunan hasil penelitian berdasarkan pengorganisasian materi, peletakan dasar pandangan dari sudut masa lalu, identifikasi masalah yang bernilai historis, ketelitian penulisan, pemakaian pola berpikir analitis, sintetis, dan prinsip-prinsip deduksi serta induksi yang tepat.

7.Keaslian Sumber Data
Sumber data yang mestinya dievaluasi baik kritik ekternal maupun internal. Kritik eksternal adalah kritik yang digunakan untuk mengetahui tingkat keaslian sumber data guna memeroleh keyakinan bahwa penelitain telah diselenggarakan dengan mempergunakan sumber data yang tepat. Yang perlu diungkapkan dengan menggunakan kritik ektern adalah usia atau waktu pembuatan data, tempat pembuatan atau ditemukannya bahan yang digunakan, bentuk, dan perhitungan daya tahan bahan yang digunakan dalam pembuatan data bila dihubungkan dengan tempat ditemukannya.
 Kritik internal adalah kritik yang bertujuan untuk meneliti tingkat kebenaran isis(data) dari sumber data yang dipergunakan atau bisa dikatakan melalui kritik ini ingin diketahui apakah data dapat dipercaya keberana dan ketelitiannya. Oleh karena itu, penggunaan data sekunder dalam penelitian historis hanya dapat dilakukan apabila data primer benar-benar sudah tidak diperoleh atau sangat sedikit. Dalam menggunakan data sekunder harus diingat kemungkinana yang ada pada data sekunder yang jelas tidak asli seperti kepalsuan data karena data itu bersala dari tangan orang kedua atau ketiga yang tidak mustahil telah memberikan tafsiran yang memasukkan unsure subyektifitas sehingga tidak sesuai lagi dengan kejadian atau keadaan yang sebenarnya terjadi.
Patut diingat oleh peneliti penelitian historis, yaitu proses dan sistem pencatatan yang peranannya sangat penting. Proses pencatatan dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan menyusun urutan bahan menurut umur kronologisnya. Dilanjutkan dengan menganalisis isisnya dan melakukan pencatatan. Data dicatat sebagaimana adanya. Kecuali data yang memerlukan interpretasi. Dalam menginterpretasi data diperlukan standar tertentu, misalnya dalam bentuk menafsirkan relief, tulisan, dan lain-lain. Pada taraf akhir, dilakukan pengelompokkan data untuk memeroleh persamaan dan perbedaan, dan untuk mempermudah analisis melalui proses mengkomparasikan data yang satu dengan data yang lain.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa dalam melakukan kritik ekternal, pastilah akan menimbulkan petanyaan yang pada intinya menuntuk sebuah jawaban apakah data yang didapat asli atau palsu dan termasuk data primier atau sekunder.
Setelah data yang ditemukan dinyatakan terbukti keasliannya atau lolos dalam kritik ekternal, dapatlah penliti melakukan kritik internal terhadap data tersebut. Pad krtik internal, peneliti harus memeriksa arti dan layaknya suatu dokumen dta sebagai sumber data penelitain yang dilakukannya. Ada beberapa faktor yang menjadi titik fokus peneliti dalam melakukan kritik internal, yaitu kredibiltas pernyataan penulis data yang meliputi kemampuan, kejujuran, keadaan, dan prasangka penulis. Bar dan Davis (Sevilla, 1993 : 60) alasan yang menyebabkan kejujuran penulis diragukan adalah 1) kepentingan penulis; 2)pengaruh keadaan; 3)simpati dan antisipasi penulis ;4)keangkuhan ;5)pengaruh pandangan umum ;6)penyimpangan yang berhubungan dengan keindahan tulisannya ;7)kemungkinan penulis melakukan pengamatan yang kurang ;8)khayalan dan prasangka penulis ;9)kelalaian dan ketidakacuhan penulis ;dan 10) adanya kenyataan yang tidak mungkin dapat diamati secara langsung.
Alasan diatas membuat Woody (Sevilla, 1993 : 62) memberikan Sembilan prinsip dasar sebagai bahan pertimbangan ketika peneliti melakukan kritik internal terhadap sumber data. Kesembilan pertimbangan itu adalah sebagai berikut:
1.   Jangan menafsirkan dokumen dengan mempergunakan pengertian yang muncul kemudian
2.   Jangan menilai bahwa seorang penulis tidak mengetahui kejadian tertentu karena sesungguhnya ia tidak menyebutkan kejadian tersebut dan jangan menilai bahwa kejdian itu tidak ada karena penulis tidak menyebutkan kejadian itu
3.   Meremehkan atau mengganggp terlalu hebat sumber data berarti sama saja kesalahnnya dan menempatkan sumber tersebut pada tanggal yang terlalu lama atau terlalu awal.
4.   Sebuah sumber yang benar dapat membuktikan keberadaan suatu ide, tetapi saksi-saksi langsung yang mampu dan bebas diperlukan untuk membutkikan kenyataan dari kejadian atau fakta objektif
5.   Kesalahan yang persis sama membuktikan adanya ketergantungan antara sumber yang satu dengan sumber yang lainny atau sumber yang berasal dari sumber yang sama.
6.   Jika saksi saling bertentangan satu sama lain mengenai hal tertentu, mungkin salah satu dari mereka ada yang benar tapi mungkin keduanya salah
7.   Saksi-saksi langsung yang mampu dan bebas yang melaporkan fakta pokok yang sama mungkin dapat diterima,  sebab banyak hal yang merupakan kesepakatan antara mereka
8.   Kesaksian resmi baik lisan maupun tertulis harus dibandingkan dengan kesaksian tidak resmi kalau memungkinkan sebab salah satu saja tidak cukup
9.   Sebuah dokumen dapat menyediakan bukti yang berharga dan dapat diandalkan pada pandangan tertentu tetapi mungkin tidak berharag pada pandangan-pandangan lain.
8.Penelitian Sejarah Pada Sastra
Penelitian sejarah sering juga diterapkan pada bidang sastra, terutama bila mengkaji sejarah sastra, sastra sejarah, dan novel sejarah. Menurut Ratna (2009 :65) pendekatan sejarah paling tepat digunakan untuk meneliti sastra sejarah dan novel sejarah dalam sastra lebih tepat digunakan istilah pendekatan daripada metode karena pada penelitian karya sastra yang banyak bersifat kualitatif lebih cocok menggunakan istilah pendekatan daripada metode karena pada penelitian karya sastra yang banyak bersifat kualitatif lebih cocok menggunakan istilah tersebut walaupun antara metode dan pendekatan perbedaannya sangat tipis.
Pendekatan historis dalam karya sastra lebih berupa penelusuran arti dan makna bahasa sebagaimana yang sudah tertulis, dipahami pada saat ditulis oleh pengarang yang benar-benar menulis, dan sebagainya (Ratna, 2009 : 65). Pendekatan historis lebih terpusat pada masalah hubungan suatu karya sastra dengan karya sastra lain yang lebih dulu lahir atau yang sesudahnya, dan unsur-unsur sejarah (sesuatu hal yang benar-benar terjadi di alam nyata ) yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. Dapat dikatakan bahwa penelitian yang menggunakan pendekatan historis ini telah mempertimbangkan kemungkinan karya sastra sebagai sebuah dokumen social, yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat atau suatu daerah bahkan Negara pada saat karya sastra itu dibuat.
Ada beberapa masalah yang dapat dijadikan objek sasaran penelitian karya sastra dengan pendekatan historis bila mempertimbangkan indikator sejarah dan sastra, yaitu seperti yang dikatakan oleh Ratna (2009: 66) sebagai berikut:
1.      Perubahan karya sastra dengan bahasanya sebagai akibat proses penerbitan ulang
2.      Fungsi dan tujuan karya sastra pada saat diterbitkan
3.      Kedudukan pengarang pada saat menulis
4.      Karya sastra sebagai wakil tradisi zamannya

9.Simpulan
Penelitian sejarah mencoba merekonstruksi yang terjadi pada masa yang lalu lengkap dan akurat. Adapun cirri-ciri penelitian sejarah yakni lebih bergantung kepada data yang dioberservasi penelitian sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yang menganalisis keautentikan, ketetapan dan pentingnya sumber-sumbernya, harus tertib, tergantung dua data yaitu data primer dan data sekunder. Sementara tujuan dari penelitian historis adalah membuat orang menyadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau.Penelitian historis juga berfungsi untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang.

Daftar Pustaka
Denzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative   Research. Diterjemahkan oleh Dariyatno, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Narbuko, Cholid dan H. Abu Achmadi. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta :PT Bumi Aksara
Nawawi, H. Hadari.1993. Metode Penelitian Bidang  Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Sukardi. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara
Zuriah, Nurul. 2009. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara