Minggu, 22 Mei 2011

Elegi Pulang by Aisyah Basar

Lebaran terakhir kita bertemu, kau masih selalu sehat segar, bahagia menyambut kepulanganku. Aku tiba di rumah tepat pada malam lebaran, sehabis azan waktu isya, kau tak ada. Kata ibu, sudah pergi ke masjid tak jauh dari rumah kita, untuk shalat isya bersama para jamaah dan sesudahnya melakukan takbiran bersama. Itu kebiasaanmu setiap tahun, aku sudah hapal. 
Maka aku segera menyusul ke masjid, memberi salam kepadamu, mengikuti takbiran, lalu pulang beramai-ramai. Dan kau elus-elus kepalaku. Aku bahagia memilikimu. “ Selamat datang petualang. kupikir sudah lupa kau pada kampung halaman.” Ledekmu, dan kita terkekeh-kekeh.
Hari lebaran. Semuanya berkumpul, kau, aku, ibu, adik-adik, keponakan, sanak keluarga. Selalu meriah, dan selalu berat badanku bertambah satu dua kilo akibat menyantap kue-kue dan seluruh penganan di hari kemenangan itu. Sedangkan engkau tetap saja tak bertambah gemuk, apalagi gendut. Tak seperti banyak orang, jadi gendut dan buncit di usia tua. Katamu, karena mereka tidak bergerak dengan baik dan mengeluarkan keringat secara teratur.
“ Kau juga, jangan malas untuk tubuhmu kalau tak mau jadi gendut dan buncit nanti.” Kau mengingatkanku, dan aku akan selalu mengangguk memberi janji, sambil cengar-cengir.
Kuakui, betapa sehat dan bugarnya dirimu, tentu karena bekerja dan berkeringat setiap hari, di ladang kita. Keringat itu, peluhmu, adalah kehidupanku. Kau berikan aku kesempatan untuk tumbuh dari hari ke hari, dari tetes demi tetes peluhmu mengumpulkan rezeki. Aku merindukan bau peluhmu yang beraroma sawit dan getah batang para. Lama sudah masa itu terlewatkan. Entah apa saja yang telah merampas waktuku hingga tak pernah lagi menyapa tanaman-tanaman kesayangan kita. Maafkan aku.
Kubayangkan kegigihanmu menggarap ladang itu. Dulu, aku suka menjajari langkahmu atas tanah berhumus itu. Ah ya, aku paling suka berada di antara batang pohon-pohon itu sehabis hujan. Aku bisa menghirup harumnya sepenuh rongga dada, menghirup semangat hidup dari hijau daun-daunnya.
Dan engkau terus bekerja. Aku mengikuti, meniru-niru setiap lakumu, dari satu jengkal ke jengkal berikutnya pada tanah dan pohon-pohon kesayangkan kita, sampai lelah. Rasanya aku cepat sekali merasa lelah.
“ Ayo istirahatlah, anak manis,” katamu saat aku tampak kelelahan. Peluhku bercucuran. Peluhmu juga.
Aku rindu bau peluhmu. Aku pernah tak suka pada tanah dan lumpur, yang mengotori tangan dan kakiku, pakaian dan terkadang wajahku. Aku begitu repot dibuatnya. Tetapi engkau begitu akrab dengannya. Tanah dan lumpur adalah hari-harimu, kesenanganmu. “ Mereka tidak kotor, tidak jahat. lihatlah betapa baik dan suburnya mereka tumbuhkan pohon-pohon kita.” katamu waktu itu. Lalu kau ajak aku bermain dengan tanah dan lumpur. “ Kita akan selalu sehat karena bersentuhan dengan tanah dan lumpur ini.” Akhirnya aku tak merasa terganggu lagi oleh belepotan tanah dan lumpur. Aku mengakrabinya, mencintainya. Inilah hidup kita.
Aku ingin kau percaya, betapa aku akan selalu cinta, meski seiring bertambahnya usia aku harus pergi meninggalkanmu. Aku punya cita-cita yang tak terbatas pada tanah lumpur para dan sawit kita. Dan kau mengerti itu. Kau sangat mengerti.
Kemudian, hari-hari lebaran adalah ajang yang teramat syahdu dan penuh makna bagi pertemuan kita. Rinduku pada hari lebaran, adalah rindu yang tak terbandingkan. Lebaran terakhir kita bertemu, semua sehat dan bahagia. Kuakui betapa sehat dan bugarnya engkau. Padahal kau suka merokok. Banyak malah. Kau seorang perokok.
Ah, kurindukan bau nafasmu yang beraroma asap tembakau. Saat bersama, aku suka sekali duduk dekat-dekat denganmu. Kita bercerita banyak. Kita berdiskusi, berdebat sampai aku atau kau yang merajuk, lalu berdamai jika sudah lelah.
Aku tak tau apakah kau tau, saat didekatmu, kunikmati bau nafas aroma tembakau. Aku tak tau apakah kau tau, di usia remaja aku belajar merokok, mencuri-curi untuk merokok. Aku jadi suka rokok. Entah apakah jadinya bau nafasku beraroma asap tembakau sepertimu. Aku menyukai apa-apa yang kau lakukan. Kusukai kegemaranmu membaca, ketaatanmu beribadah. Aku menyukai caramu mencintai ibu, dan kami. Aku menyukai gaya merokokmu. Kurindukan bau nafasmu yang beraroma asap tembakau.
Ya, lebaran terakhir kita bertemu, aku tiba malam seusai azan waktu isya. Aku menyusulmu ke masjid tak jauh dari rumah kita. Takbiran. Malam Takbiran. Kini menjelang lebaran. Aku akan pulang, pasti pulang. Lihatlah tiket kereta api sudah kugenggam. Aku janji, berat badanku tidak akan bertambah sampai dua kilo karena menyantap kue-kue dan seluruh penganan di hari kemenangan kita.
Aku pasti pulang. Walaupun lebaran kali ini kau tidak ada di rumah, tidak pula ada di masjid dekat rumah kita. Aku pasti pulang. Walau tak ada bau peluh yang beraroma sawit dan getah batang para. Tak ada bau nafas beraroma asap tembakau. Tak ada tangan kokoh yang mengelus-elus kepalaku.
Aku belum tau, apakah akan pergi ke masjid tak jauh dari rumah kita untuk melakukan takbiran beramai-ramai. Aku belum tau, apakah nanti akan pecah tangisku di depan pintu, sebab aku masih tetap gadis kecilmu yang terkadang cengeng. Tetapi aku tau, apa yang akan kulakukan untuk ibu, untuk adik-adik. Percayalah padaku.
Aku pulang, ayah.

Medan, 23 Ramadhan 1429 Hijriah

Tidak ada komentar: