Selasa, 06 Maret 2012
Minggu, 04 Maret 2012
PENDIDIKAN KARAKTER SEBUAH KEBUTUHAN
oleh : Maya Dewi Kurnia
( dimuat di harian Medan Bisnis, 7 Januari 2012)
Masih ingat dengan kekerasan yang
dialami seorang siswa SMK Pangudi Luhur, Rafi, di Jakarta awal bulan November
lalu? Kasus tersebut berujung pada kematian. Tak jauh berbeda di penghujung
tahun ini peristiwa serupa pun terjadi lagi di Jakarta, sejumlah pelajar
terlibat tawuran. Akibatnya korban berjatuhan, keluarga terluka, tidak
terkecuali negara ini pun tercoreng.
Sepanjang tahun2011 ini saja data Komnas PA(Kompas,23/12/2011) merilis
jumlah tawuran pelajar sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang
sedangkan tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar berkisar 128 kasus.
Mirisnya, sebuah tawuran pelajar terjadi karena hal sepele. Misalnya hanya
karena kesalahpahaman siswa tega menganiaya siswa lainnya. Hal ini tentu saja
memprihatinkan dan mesti mendapat perhatian yang serius dari semua pihak. Untuk
itu dibutuhkan sebuah solusi mengatasinya sebelum semuanya semakin memburuk.
Sejak tahun 2010 pemerintah sudah
meluncurkan sebuah konsep pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan
sekolah dan disinyalir mampu mengatasi persoalan tersebut. Namun kenyataannya,
terus saja penganiayaan, tawuran antar pelajar terjadi lagi seperti di
pengujung bulan November lalu di Jakarta dan mungkin juga di daerah lain.
Sebelum melangkah jauh, sebaiknya kita
memahami makna pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan
tentang budi pekerti yang melibatkan tiga aspek yakni: kognitif, perasaan, dan
berakhir pada tindakan. Dengan penguasan tersebut, anak tidak saja cerdas IQ (Intelligence Quotient) tetapi juga EQ (Emotional Quotient). EQ yang dimaksud
yakni percaya diri, kemampuan kerjasama, kemampuan bergaul, rasa empati, dan
kemampuan berkomunikasi yang diyakini berpengaruh pada keberhasilan siswa di
sekolah. Daniel Goleman, penulis buku Emotional
Intelligence menegaskan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat 80 %
dipengaruhi kecerdasan emosi dan 20 % kecerdasan kognitif. Jelaslah pendidikan
karakter itu penting.
Pendidikan karakter di Indonesia sebenarnya
bukan hal baru dan sudah ada sejak zaman Soekarno. Melalui character building yang ia gagas turut pula mengenalkan pendidikan
karakter yang diyakini akan membawa bangsa menjadi jaya. Sayang, dalam. perjalanannya
pendidikan karakter belum memberikan hasil yang memuaskan. Berbeda dengan
Negara Cina dan India yang berpegang dengan pendidikan karakter kini telah
menjadi negara mandiri di Asia. India, negara yang memiliki penduduk kedua
terbanyak di dunia kini berswasembada pangan. India bahkan sangup memenuhi
kebutuhan masyarakatnya dari sabun hingga pesawat. Cina juga demikian, negara
ini di era tahun 70an tak lebih makmur dibandingkan Indonesia. Namun dalam
kurun waktu kurang dari 30 tahun, dengan disiplin baja dan kerja keras. Cina
mampu menggerakkan mesin produksi nasionalnya. Budaya disiplinnya juga berhasil
menekan masalah korupsi di kalangan birokrat.
Bila ditilik banyak faktor yang
melatarbelakangi ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah misalnya kecenderungan pengenalan nilai-nilai kepada
siswa, sementara tataran implementasinya diabaikan.
Untuk itulah dibutuhkan keterlibatan
semua pihak mulai dari isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler,
pemberdayaan sarana dan prasarana, serta etos kerja seluruh warga di lingkungan
sekolah. Dalam menanamkan nilai-nilai kepada siswa di sekolah, peranan guru sangatlah
penting karena menjadi ujung tombak pembelajaran di kelas yang berhadapan
langsung dengan siswa. Guru semestinya menjadi
teladan, model seperti dalam filosofi jawa “digugu lan ditiru”. Beberapa
hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya tersebut misalnya ketika memasuki
ruang kelas dengan membaca salam, mengawali pembelajaran dengan basmalah
dan doa, komunikasi verbal dan nonverbal yang santun, membiasakan
kalimat-kalimat tayyibah, mengedepankan penghargaan, serta
menutup pembelajaran dengan hamdalah dan doa.
Namun,
keberhasilan pendidikan tidak saja ditentukan di lingkungan formal seperti
sekolah, lingkungan informal pun sesungguhnya memiliki kontribusi.
Lingkungan informal yang dimaksud yakni
keluarga. Sekolah dan keluarga semestinya saling bersinergi memberikan
pendidikan karakter kepada anak. Dengan begitu tujuan pendidikan secara umum
untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan
seimbang bisa tercapai.
Bila diperhatikan anak mengikuti pendidikan di sekolah
hanya sekitar 7 jam per hari atau sekitar 30% selebihnya 70% mereka berada pada
lingkungan keluarga dan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu,
pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sekitar 30% terhadap hasil pendidikan
anak. Jelaslah bahwa anak lebih banyak berada di lingkungan keluarga.
Seyogyanya
keluarga yang pertama membangun, memupuk nilai-nilai, norma-norma keagamaan,
dan sosial pada anak. Seperti yang ditegaskan Thomas Lickona, pengagas
pendidikan karakter yang mengemukakan pendidikan tersebut semestinya dilakukan
sejak usia dini.
Membahas
tentang pendidikan karakter di keluarga tentu tidak lepas dari pola asuh orang
tua yakni pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan
kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dll) dan kebutuhan psikologis (rasa aman, kasih sayang dll), serta
sosialisasi norma yang ada di masyarakat. Dengan demikian anak dapat hidup
selaras dengan lingkungannya. Anak dengan pola asuh orang tua yang menerima,
membuat ia merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, begitu juga
sebaliknya. Hal tersebut berpengaruh pada tumbuh kembang kepribadiannya. Fitrahnya
anak terlahir bagai lembaran kertas putih. Ia terbentuk, belajar dari meniru
orang tua, dan lingkungan yang ada disekelilingnya.
.Sebenarnya
bila diamati berbagai macam persoalan dalam masyarakat disebabkan lemahnya
institusi keluarga. Oleh karena itu,
setiap keluarga memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa bergantung pada
pendidikan di rumah. Pendidikan karakter kini harus menjadi kebutuhan dan semestinya
pula terus menerus diterapkan kepada anak. Barangkali tidak dalam waktu dekat manfaat
pendidikan tersebut dirasakan tapi percayalah sepuluh atau dua puluh tahun
mendatang sebuah perubahan yang lebih baik akan terwujud dan tidak ada lagi terdengar
peristiwa tawuran pelajar terjadi di negara ini.
Kedai Lontong Medan di Kampung Sunda
oleh: Maya Dewi Kurnia
Bandung memang pusat pendidikan.
Banyak perguruan tinggi hadir di kota yang dijuluki sebagai paris van java.
Inilah yang membuat banyak orang dari berbagai daerah mulai Sabang hingga
Merauke datang untuk mengenyam pendidikan disini. Tidak cuma itu, Bandung juga
pusat belanja, factory outlet, café maupun restoran menjamur. Kalau hari libur
tiba, tempat-tempat tersebut disesaki pengunjung.
Masing-masing restoran, café
menawarkan menu berbeda, dari yang tradisional hingga luar negeri. Semuanya
tinggal disesuaikan dengan selera dan kantong pengunjung. Tidak Cuma itu
restoran dan café yang ada umumnya juga menawarkan suasana yang nyaman dengan
desain ruangan yang menarik. Namun berbeda dengan kedai sederhana yang menawarkan
masakan khas Medan ini. Orang menyebutnya dengan Kedai Lontong Medan. Disini
tamu hanya dijamu dengan meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu. Meski
begitu kehangatan kental terasa di kedai ini.
Sesuai dengan namanya, kedai yang
berada di Jalan Dipatiukur Bandung dekat kampus UNPAD ini memang menyajikan
makanan ala Medan berupa lontong Medan, mus Martabe, mie rebus, daun ubi tumbuk,
gulai ikan sale, kopi sidikalang dll. Semua disediakan untuk memenuhi kerinduan
masyarakat Sumatera Utara di Bandung yang merindukan hidangan ala Medan.
Tahun 1984, Tagor Lubis hijrah dari
Sumatera Utara ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya. Ia mengaku ketika
itu kesulitan menemukan makanan yang sesuai dengan seleranya. Hal demikian
ternyata juga dirasakan sebagian mahasiswa asal Sumatera Utara lainnya. Kepuasaan
mencicipi makanan khas Medan baru bisa diperoleh apabila ia pulang ke kampung.
Berawal dari pengalaman itu membuat
Tagor memiliki ide untuk mendirikan sebuah kedai yang menyediakan makanan khas
Medan. Namun karena beberapa hal idenya baru terealisasi tahun 2011 dengan nama
Kedai Lontong Medan.
Seiring waktu, kedai lontong Medan
mengalami perubahan. Kedai tidak lagi berdiri dibawah tenda bongkar pasang
namun sudah berada di bangunan permanen. Kedai juga tidak hanya melayani
pengunjung di pagi hari tetapi buka
hingga 24 jam. Ini seolah menjadi daya pikatnya. Alhasil pengunjung yang
sebagian besar mahasiswa asal Sumatera Utara menjadikan kedai ini tempat
berkumpul hingga subuh menjelang. Mereka berbicara berbagai topik dengan dialek
dan bahasa prokem ala Medan.
Halmidar, salah satu mahasiswa
UNPAD asal Medan mengaku sering datang kesini. Kedatangannya bukan sekadar
menikmati makanan khas medan tapi berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang masih
satu daerah. Menurutnya banyak mahasiswa asal Medan menetap di Bandung, hanya
tidak saling mengenal. Di kedai inilah tali silaturahmi itu terjalin. Ya, Kedai
Lontong Medan nyatanya bukan sekadar tempat makan tapi saksi sebuah komunitas Medan terbentuk.
Senin, 26 Desember 2011
Pesona Kawah Putih
Senin, 19 Desember 2011
Mak
|
oleh: Maya Dewi Kurnia
Makan malam ini kupikir
akan menjadi makan malam yang berat buatku. Lama aku merencanakan agar
malam ini aku mampu mengungkapkan isi hatiku kepada Mak.
Jarum jam sudah
menunjukkan pukul 7 malam. Itu tandanya sebentar lagi Mak akan keluar
dari kamarnya dan memasuki ruang makan kami yang alakadarnya. Ruangan
berukuran 2x3 dengan dinding batu bata yang belum diplester sekaligus
disesaki dengan perkakas dapur. Sudah menjadi kebiasaan tepat pukul
7.05 menit kami makan malam. Diatas meja, nasi lengkap dengan lauk pauk
tempe dan sambal terasi sudah terhidang. Perlahan, sesosok tubuh yang
kukenal keluar dari peraduannya lalu berjalan mendekati kursi reot yang
berada disampingku. Ia menggesernya kemudian duduk.
Temaram lampu tidak mengaburkan pandanganku akan Mak. Kulitnya kuamati mulai mengendur, Tubuhnya pun tidak lagi gagah seperti tiga tahun lalu. Malam itu Mak makan sangat lahap. Tempe dan sambal terasi yang kubuat mampu mengeluarkan peluhnya namun ia sangat menikmatinya. " Enak masakanmu hari ini Midah, Mak suka," ujarnya sambil tersenyum. Lima belas menit berlalu, keheningan yang menjadi tradisi ketika makan berganti dengan keriuhan. Usai makan waktunya sesi berbagi cerita dimulai. Biasanya kami saling bertanya, mengutarakan pengalaman selama satu hari itu dari menyenangkan hingga yang buruk. Tawa dan tangis menjadi hal yang lumrah ketika tradisi yang selalu dinantikan itu berlangsung. Mak memulai ceritanya dari rempeyek yang ia buat laku terjual seluruhnya. Dia bersemangat dan mengatakan secara berulang bahwa yang memborong rempeyek buatannya seorang pemuda tampan yang ingin menghadiahkan cemilan itu untuk ayahnya. Ekspresi wajah senang Mak berlanjut ketika ia memuji pemuda tampan yang terlihat sukses itu sangat memperhatikan orang tuanya. "Mak pun ingin diperlakukan seperti itu," celetuknya tiba-tiba. "Bukan harta yang Mak inginkan tapi perhatian saja cukup. Nanti kalau kau sudah menikah dan pergi dari rumah ini, sering-sering kau lihat Mak ya," lanjutnya. Mendengarnya seperti ada batu besar yang menimpaku. Seluruh tubuhku mengeras kaku. Kebimbangan mendera. Aku ragu untuk menjalankan niatku semula. Aku terdiam sesaat. " Midah, kenapa kau diam," tegur Mak. " Midah, oh Midah kau melamun," sambungnya. " Tidak Mak," ucapku terkejut . " Sekarang giliranmu menceritakan pengalaman hari ini,," ujarnya lagi. " Mak," panggilku lembut " Mak, bolehkah Midah bilang sesuatu," tanyaku ragu " Bilanglah, jangan kau takut," balasnya Mak sepertinya tahu betul wajah bimbangku. Tatapan matanya yang terus tertuju ke arahku dan justru makin membuatku tak kuat berkata. " Tuhan bantu aku mengungkapkan kejujuran dan keinginan hatiku kepada Mak," lirihku dalam hati. " Mak, boleh Midah kerja," tanyaku " Bolehlah, bukankah kau sekarang sudah bekerja," ucap Mak. " Kerja di luar negeri maksudku Mak," kataku Mak yang semula ingin menyeruput teh manisnya tiba-tiba berhenti. Ia melongoh, diletakannya kembali gelas yang sedari tadi dipegangnya. Wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan ekspresi senang atau pun sebaliknya. Entahlah aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mak saat itu. Sepuluh menit kami hanya saling pandang. Aku menangkap ada amarah yang tertahan dari mata Mak. Di luar suara jangkring mengerik, angin berdesir kencang suasana pun dirasa makin sepi dan dingin. Dan Mak masih bertahan dalam diamnya. Mak yang tadi garang melihat ku lambat-lambat menunduk. "Mak, setujunya kalau Midah kerja di luar negeri?, " tanyaku pelan " Mak, jawab Mak," ujarku memaksa. "Kenapa harus keluar negeri kau bekerja, bukankah disini kaupun bekerja Midah, - tanya Mak gemetar. "Aku memang disini bekerja tapi penghasilanku kecil Mak. Aku ingin membelikan Mak rumah yang layak, aku ingin bisa membawa Mak naik haji. Aku ingin Mak bisa menikmati masa tua dengan senang sehingga tidak peru repot berkeliling kampung menjual rempeyek. Aku ingin membahagiakan Mak," ujarku tanpa jeda. Hasrat yang membuncah membuatku berani mengutarakan semuanya kepada Mak. Meski setelah itu jantungku berdegup kencang dan air mata mengalir deras di pipi. Mak tiba-tiba bangkit dan berujar," Kau tahu Midah, aku puas dengan keadaan yang ada". Mak menutup pembicaraan tersebut dengan sebuah kalimat yang singkat dan pergi meninggalkanku. Ia memilih berjalan ke kamar lalu berbaring di atas kasur yang penuh dengan gumpalan kapas. Mak menutup matanya dalam. Ia berharap bisa menahan laju air mata. Sayang, air mata itu terus mengalir membanjiri bantal dan pakaian lusuh Mak. Mak berharap bisa segera tertidur dan melupakan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun pikirannya melayang 23 tahun silam, saat pertama Midah hadir di tengah kehidupannya. Ia lahir setelah dua tahun perkawinan Mak dengan seorang pria sederhana bernama Rasyid. Kehadiran Midah melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Meski dengan kesederhanaan tapi Midah dirawat dengan kasih sayang dan perhatian. Empat tahun setelah kehadiran Midah, Rasyid suami Mak meninggal akibat sakit lever. Sejak itu kehidupan dirasa makin sulit, Mak berjuang sendiri untuk membesarkan Midah dan menyekolahkannya sampai SMA. Keduanya sangat dekat, mereka melalui cerita indah dan sedih bersama. Kini, tiba-tiba Midah ingin meninggalkannya. Mak belum bisa mengerti alasan Midah ingin pergi bekerja di luar negeri. " Mak tidak meminta apapun dari Midah, Mak cuma ingin bersamamu," lirih mak. Tapi Mak tahu betul keinginan dan watak anak semata wayangnya. Midah masih setia di bangku tempat semula ia duduk. Matanya mulai membengkak karena sedari tadi menangis. "Aku tahu Mak tidak menyetujui keinginanku tapi aku sudah tidak mungkin mundur. Aku sudah mendaftar. Tanpa sepengetahuan Mak aku sudah menyerahkan tabunganku untuk mendaftar menjadi tenaga kerja Indonesia. Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk bekerja di luar negeri," ujarnya dalam hati. *** Hari ini tepat jam 10 pagi Midah akan meninggalkan kampungnya dan bertolak ke Jakarta. Rencananya seminggu di Jakarta Midah langsung dibawa ke Jeddah, Arab Saudi. Semua sudah dimasukan Midah, jangan ada yang ketinggalan. Mukena, dan sajadah sudah kau masukan ke tasmu?" tanya Mak. Jangan tinggalkan sholatmu ya? Baik-baik kau disana," ujar mak lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Midah tinggalkan hp ini untuk Mak. Jadi Midah bisa menghubungi Mak kapan saja, Mak baik-baik ya, jaga kesehatan Mak, Midah akan kembali. Maafkan Midah Mak," ungkapnya berhadapan dengan Mak. Mereka saling menatap. Keduanya berpelukan. Midah pun tak kuasa menahan air matanya. Dari luar terdengar suara orang mengetuk pintu. "Asalamualaikum. Apa betul ini rumah Midah Al Rasyid," tanya pria di luar. " Walaikumsalam", Jawab Midah. Midah ternyata mengenali pria berkumis yang berdiri di pintu rumahnya. Ia adalah salah satu pegawai dari perusahaan penyalur tenaga kerja yang akan memberangkatkan Midah ke luar negeri. "Mak, Midah berangkat ya?", ujarnya sambil mencium tangan Mak. Ada perasaan yang tidak mengenakan tiba-tiba menyergap hatinya. Namun ia berusaha melangkah keluar rumah dengan percaya diri. Dari kejauhan ia mengamati tubuh mungil Mak yang berdiri sambil melambaikan tangan. Teringat masa indah saat tidur bersama Mak. Midah memeluknya erat, mencium aroma minyak goreng yang selalu membuatku rindu. "Akh Mak, semoga kita bertemu lagi," ungkapnya dalam hati. **** Kring.kring..suara hp berdering nyaring. " Assalamualaikum. Mak, sedang apa? Ini Midah mak. Bagaimana keadaannya Mak?," suara dari seberang telepon menyapa. " Oh kau Midah, senang mak mendengar suaramu," jawab Mak. Keduanya larut dalam percakapan yang hangat. Mereka saling melepas rindu. Midah bersemangat menceritakan pengalamannya di Jeddah. Ia mengatakan pada mak majikan tempat ia bekerja baik. Mendengar cerita Midah mak jadi lega. Tak terasa sudah 20 menit berlalu dan Midah bergegas menutup telepon. Sebelum pembicaraan dihentikan Mak berpesan," jaga dirimu Midah, jangan lupa sholat. Mak merindukanmu". Mak menutup telepon dengan tersenyum, kegembiraan tergambar jelas dari wajahnya. Di bulan keempat Midah di Jeddah, ia menghubungi Mak lagi. Pembicaraan keduanya berlanjut. Sesekali Mak tertawa hingga dari seberang telepon tiba-tiba Midah mengatakan, "Mak, gaji Midah selama disini sudah Midah kirim, tolong disimpan. Oia, bulan depan Midah akan jarang menelpon Mak. Midah sedang banyak kerjaan, Mak jangan khawatir ya". Raut wajah Mak berubah. " Iya Midah, tak apa, Mak selalu mendoakanmu, Nak. Jaga dirimu. Mak akan menunggumu disini?" ujarnya lagi. Sejenak pembicaraan berhenti. "Midah menyayangi mak," ujar Midah. Kalimat itu berat dirasa oleh bagai sebuah pertanda buruk. Tapi Mak berusaha menepis kegalauan hatinya. Tiga bulan berlalu Mak mulai cemas. Midah tidak pernah menghubunginya, Mak juga tidak bisa menelponnya. Sampai sebuah tayangan di televisi menyebutkan salah satu tki ditemukan di jembatan Kandara, Jeddah tewas mengenaskan dengan tubuh lebam. Kecemasannya makin menjadi tatkala dalam tayangan berita itu ditampilkan sebuah foto wanita tak berkerudung yang mulai usang dan mak mengenalinya sebagai Midah. Mak berurai air mata. Ia menangis. Hatinya hancur. Sebuah kalimat terlontar " Mak menyayangimu Midah,". (terbit 18 Desember 2011 di harian Medan Bisnis) |
Selasa, 06 Desember 2011
Juara
oleh: Fahd Djibran
Kebahagiaan adalah soal bagaimana kita menjadi juara bagi diri kita sendiri. Maka, jadilah juara bagi dirimu sendiri. Yakinlah, teruslah melangkah, jangan biarkan dirimu dikalahkan rasa takut dan ragu. Sebab, setiap orang adalah juara bagi dirinya sendiri.
Jumat, 02 Desember 2011
Hidup
Kau kecewa hari ini nak, kau merasa kalah hari ini? Kau merasa hidupmu tidak sehebat yang kau bayangkan. Tenanglah nak, hidup tidak melulu tentang kebahagiaan.Kadang-kadang kita lupa bahwa saat kita merasa kalah dan kecewa sesungguhnya merupakan saat terkuat kita.
Langganan:
Postingan (Atom)

