Minggu, 04 Maret 2012

Kedai Lontong Medan di Kampung Sunda

oleh: Maya Dewi Kurnia
 
Bandung memang pusat pendidikan. Banyak perguruan tinggi hadir di kota yang dijuluki sebagai paris van java. Inilah yang membuat banyak orang dari berbagai daerah mulai Sabang hingga Merauke datang untuk mengenyam pendidikan disini. Tidak cuma itu, Bandung juga pusat belanja, factory outlet, café maupun restoran menjamur. Kalau hari libur tiba, tempat-tempat tersebut disesaki pengunjung.

Masing-masing restoran, café menawarkan menu berbeda, dari yang tradisional hingga luar negeri. Semuanya tinggal disesuaikan dengan selera dan kantong pengunjung. Tidak Cuma itu restoran dan café yang ada umumnya juga menawarkan suasana yang nyaman dengan desain ruangan yang menarik. Namun berbeda dengan kedai sederhana yang menawarkan masakan khas Medan ini. Orang menyebutnya dengan Kedai Lontong Medan. Disini tamu hanya dijamu dengan meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu. Meski begitu kehangatan kental terasa di kedai ini.

Sesuai dengan namanya, kedai yang berada di Jalan Dipatiukur Bandung dekat kampus UNPAD ini memang menyajikan makanan ala Medan berupa lontong Medan, mus Martabe, mie rebus, daun ubi tumbuk, gulai ikan sale, kopi sidikalang dll. Semua disediakan untuk memenuhi kerinduan masyarakat Sumatera Utara di Bandung yang merindukan hidangan ala Medan.

Tahun 1984, Tagor Lubis hijrah dari Sumatera Utara ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya. Ia mengaku ketika itu kesulitan menemukan makanan yang sesuai dengan seleranya. Hal demikian ternyata juga dirasakan sebagian mahasiswa asal Sumatera Utara lainnya. Kepuasaan mencicipi makanan khas Medan baru bisa diperoleh apabila ia pulang ke kampung. 

Berawal dari pengalaman itu membuat Tagor memiliki ide untuk mendirikan sebuah kedai yang menyediakan makanan khas Medan. Namun karena beberapa hal idenya baru terealisasi tahun 2011 dengan nama Kedai Lontong Medan. 

Seiring waktu, kedai lontong Medan mengalami perubahan. Kedai tidak lagi berdiri dibawah tenda bongkar pasang namun sudah berada di bangunan permanen. Kedai juga tidak hanya melayani pengunjung di pagi hari  tetapi buka hingga 24 jam. Ini seolah menjadi daya pikatnya. Alhasil pengunjung yang sebagian besar mahasiswa asal Sumatera Utara menjadikan kedai ini tempat berkumpul hingga subuh menjelang. Mereka berbicara berbagai topik dengan dialek dan bahasa prokem ala Medan. 

Halmidar, salah satu mahasiswa UNPAD asal Medan mengaku sering datang kesini. Kedatangannya bukan sekadar menikmati makanan khas medan tapi berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang masih satu daerah. Menurutnya banyak mahasiswa asal Medan menetap di Bandung, hanya tidak saling mengenal. Di kedai inilah tali silaturahmi itu terjalin. Ya, Kedai Lontong Medan nyatanya bukan sekadar tempat makan tapi saksi sebuah komunitas Medan terbentuk.

Tidak ada komentar: