oleh : Maya Dewi Kurnia
( dimuat di harian Medan Bisnis, 7 Januari 2012)
Masih ingat dengan kekerasan yang
dialami seorang siswa SMK Pangudi Luhur, Rafi, di Jakarta awal bulan November
lalu? Kasus tersebut berujung pada kematian. Tak jauh berbeda di penghujung
tahun ini peristiwa serupa pun terjadi lagi di Jakarta, sejumlah pelajar
terlibat tawuran. Akibatnya korban berjatuhan, keluarga terluka, tidak
terkecuali negara ini pun tercoreng.
Sepanjang tahun2011 ini saja data Komnas PA(Kompas,23/12/2011) merilis
jumlah tawuran pelajar sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang
sedangkan tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar berkisar 128 kasus.
Mirisnya, sebuah tawuran pelajar terjadi karena hal sepele. Misalnya hanya
karena kesalahpahaman siswa tega menganiaya siswa lainnya. Hal ini tentu saja
memprihatinkan dan mesti mendapat perhatian yang serius dari semua pihak. Untuk
itu dibutuhkan sebuah solusi mengatasinya sebelum semuanya semakin memburuk.
Sejak tahun 2010 pemerintah sudah
meluncurkan sebuah konsep pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan
sekolah dan disinyalir mampu mengatasi persoalan tersebut. Namun kenyataannya,
terus saja penganiayaan, tawuran antar pelajar terjadi lagi seperti di
pengujung bulan November lalu di Jakarta dan mungkin juga di daerah lain.
Sebelum melangkah jauh, sebaiknya kita
memahami makna pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan
tentang budi pekerti yang melibatkan tiga aspek yakni: kognitif, perasaan, dan
berakhir pada tindakan. Dengan penguasan tersebut, anak tidak saja cerdas IQ (Intelligence Quotient) tetapi juga EQ (Emotional Quotient). EQ yang dimaksud
yakni percaya diri, kemampuan kerjasama, kemampuan bergaul, rasa empati, dan
kemampuan berkomunikasi yang diyakini berpengaruh pada keberhasilan siswa di
sekolah. Daniel Goleman, penulis buku Emotional
Intelligence menegaskan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat 80 %
dipengaruhi kecerdasan emosi dan 20 % kecerdasan kognitif. Jelaslah pendidikan
karakter itu penting.
Pendidikan karakter di Indonesia sebenarnya
bukan hal baru dan sudah ada sejak zaman Soekarno. Melalui character building yang ia gagas turut pula mengenalkan pendidikan
karakter yang diyakini akan membawa bangsa menjadi jaya. Sayang, dalam. perjalanannya
pendidikan karakter belum memberikan hasil yang memuaskan. Berbeda dengan
Negara Cina dan India yang berpegang dengan pendidikan karakter kini telah
menjadi negara mandiri di Asia. India, negara yang memiliki penduduk kedua
terbanyak di dunia kini berswasembada pangan. India bahkan sangup memenuhi
kebutuhan masyarakatnya dari sabun hingga pesawat. Cina juga demikian, negara
ini di era tahun 70an tak lebih makmur dibandingkan Indonesia. Namun dalam
kurun waktu kurang dari 30 tahun, dengan disiplin baja dan kerja keras. Cina
mampu menggerakkan mesin produksi nasionalnya. Budaya disiplinnya juga berhasil
menekan masalah korupsi di kalangan birokrat.
Bila ditilik banyak faktor yang
melatarbelakangi ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah misalnya kecenderungan pengenalan nilai-nilai kepada
siswa, sementara tataran implementasinya diabaikan.
Untuk itulah dibutuhkan keterlibatan
semua pihak mulai dari isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler,
pemberdayaan sarana dan prasarana, serta etos kerja seluruh warga di lingkungan
sekolah. Dalam menanamkan nilai-nilai kepada siswa di sekolah, peranan guru sangatlah
penting karena menjadi ujung tombak pembelajaran di kelas yang berhadapan
langsung dengan siswa. Guru semestinya menjadi
teladan, model seperti dalam filosofi jawa “digugu lan ditiru”. Beberapa
hal yang bisa dilakukan guru dalam upaya tersebut misalnya ketika memasuki
ruang kelas dengan membaca salam, mengawali pembelajaran dengan basmalah
dan doa, komunikasi verbal dan nonverbal yang santun, membiasakan
kalimat-kalimat tayyibah, mengedepankan penghargaan, serta
menutup pembelajaran dengan hamdalah dan doa.
Namun,
keberhasilan pendidikan tidak saja ditentukan di lingkungan formal seperti
sekolah, lingkungan informal pun sesungguhnya memiliki kontribusi.
Lingkungan informal yang dimaksud yakni
keluarga. Sekolah dan keluarga semestinya saling bersinergi memberikan
pendidikan karakter kepada anak. Dengan begitu tujuan pendidikan secara umum
untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan
seimbang bisa tercapai.
Bila diperhatikan anak mengikuti pendidikan di sekolah
hanya sekitar 7 jam per hari atau sekitar 30% selebihnya 70% mereka berada pada
lingkungan keluarga dan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu,
pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sekitar 30% terhadap hasil pendidikan
anak. Jelaslah bahwa anak lebih banyak berada di lingkungan keluarga.
Seyogyanya
keluarga yang pertama membangun, memupuk nilai-nilai, norma-norma keagamaan,
dan sosial pada anak. Seperti yang ditegaskan Thomas Lickona, pengagas
pendidikan karakter yang mengemukakan pendidikan tersebut semestinya dilakukan
sejak usia dini.
Membahas
tentang pendidikan karakter di keluarga tentu tidak lepas dari pola asuh orang
tua yakni pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan
kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dll) dan kebutuhan psikologis (rasa aman, kasih sayang dll), serta
sosialisasi norma yang ada di masyarakat. Dengan demikian anak dapat hidup
selaras dengan lingkungannya. Anak dengan pola asuh orang tua yang menerima,
membuat ia merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, begitu juga
sebaliknya. Hal tersebut berpengaruh pada tumbuh kembang kepribadiannya. Fitrahnya
anak terlahir bagai lembaran kertas putih. Ia terbentuk, belajar dari meniru
orang tua, dan lingkungan yang ada disekelilingnya.
.Sebenarnya
bila diamati berbagai macam persoalan dalam masyarakat disebabkan lemahnya
institusi keluarga. Oleh karena itu,
setiap keluarga memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa bergantung pada
pendidikan di rumah. Pendidikan karakter kini harus menjadi kebutuhan dan semestinya
pula terus menerus diterapkan kepada anak. Barangkali tidak dalam waktu dekat manfaat
pendidikan tersebut dirasakan tapi percayalah sepuluh atau dua puluh tahun
mendatang sebuah perubahan yang lebih baik akan terwujud dan tidak ada lagi terdengar
peristiwa tawuran pelajar terjadi di negara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar