Aku perantau pemula. Lebih kurang 8 bulan aku menempati kota baru ini. Sebut saja nama kotanya X. Kota yang bagi kebanyakan orang menyenangkan dan termasuk dalam daftar kota tujuan wisata. Kalau hari sudah libur kota ini makin sesak. Pendatang berseliweran, kenderaan lalu lalang entah dari mana. Hotel dan restoran nyaris penuh.
Tapi bagiku kota ini biasa saja. Justru memusingkan hehe...Kalau karena alasan macet di kota asalku pun hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Jadi sudah mahfum. Sementara kalau tentang pusat perbelanjaan tidak kalah banyak dengan yang ada di kotaku.
Sebenarnya persoalan hanya satu. Andai saja itu bisa tertanggulangi dengan baik barangkali aku lebih mudah berdamai dengan kota X ini. Persoalan yang dimaksud yakni sampah. Lebih tepatnya tempat pembuangan sampah. Mungkin terdengar aneh tapi ini realitanya. Kenyataan yang tiap hari mesti aku pikirkan.
Ketika sampah rumah tangga sudah menggunung di rumah aku kebingungan untuk membuangnya. Tidak mungkin dibiarkan teronggok di dalam rumah. Bukan saja akan menimbulkan bau tak sedap tapi juga akan memunculkan binatang. Lantas solusinya harus dibuang ke luar rumah. Meletakkanya dalam lubang sampah yang disediakan di depan rumah mestinya menjadi solusi ketika petugas sampah rajin mengambilnya. Sayang kenyataanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terkadang seminggu sekali petugas sampah belum tentu mampir ke rumah ku.
Kalau sudah gitu hmm bau busuk pun menyengat menusuk hidung. Lalat mulai bermunculan. Ingin rasanya aku bakar semua sampah busuk itu tapi masyarakat di sekitarku melarangnya. Alasan mereka asap sampah akan membawa polusi. Sementara untuk menimbunnya pun sudah tidak ada lahan. Alhasil jalan keluar adalah membuangnya ke jalan-jalan yang memang sudah dipenuhi sampah atau cara lebih bijaknya membawa sampah ke mall dan membuangnya di tong sampah mall. Cara kedua ini lebih sering aku lakukan lantaran lebih baik dari cara pertama.
Sungguh aku heran ketika kota ini dipenuhi dengan beragam mall yang menawarkan kemolekannya dan kecanggihannya tapi masalah sampah belum tertangani dengan baik. Alhasil muncullah generasi yang tidak ada malu membuang sampah di jalan, seolah berlomba makin banyak makin baik.
Aku pikir kota ini memiliki SDM yang hebat. SDM yang seyogyanya mampu mengolah bahan limbah menjadi bahan berguna. Apalagi didukung di kota ini pula sebuah lembaga pendidikan teknologi yang hebat hadir. Andai saja para pemikir dan ilmuwan itu mau meluangkan waktunya sedikit untuk menangani sampah, bukan tidak mungkin lahirlah sebuah pembangkit listrik tenaga sampah sehingga masyarakat Indonesia khususnya yang berada di desa terpencil tidak lagi merasakan gulita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar