Selasa, 26 April 2011

Mie Kuah Pelangi

Foto by Mak Lintang
Bahan:
-1 Bungkus mie instan rasa kari atau kaldu ayam
-Bakso sesuai selera, dipotong
-3 Buah cabe rawit merah, dirajang
-1/2 Siung bawang bombay, dirajang
-1 Buah bawang putih, dirajang
-1/2 Potong tomat merah,dirajang
-1/2 Potong wortel,dirajang
-2 Buah buncis,dirajang
-1/2 Sendok kecap manis
-merica sesuai selera
-1Buah daun bawang, dirajang
-Minyak sayur

Cara Membuat:
* Tumis bawang bombay, bawang putih, cabe, tomat, aduk sebentar kemudian masukan bakso, wortel dan buncis.
*Saat sayur sudah terlihat layu masukan kecap dan merica. Lalu masukan air tunggu hingga mendidih.
*Masukan mie instan lengkap dengan bumbunya. Jangan lupa beri irisan daun bawang. Tunggu hingga mie matang dan sajikan. Biar lebih dinikmat bisa ditaburi dengan bawang goreng.

Senin, 25 April 2011

Asam Pedas Menggoda

Foto by Mak Lintang

 Bahan:
-Ikan tongkol sesuai selera
-Garam
-Serai,memarkan
-Jahe,memarkan
-Daun kunyit
-Daun kemangi sesuai selera
-1 buah asam kandis
-Jeruk nipis

Bumbu Halus:
-8 buah cabe merah
-3 siung bawang  merah
-2 siung bawang putih
-1 buah tomat merah


Cara Membuat:
*Ikan tongkol yang telah dibersihkan diberi garam dan perasan jeruk nipis
*Bumbu halus dimasukan ke dalam wajan berisi air. Masukan daun kunyit, asam kandis, jahe, serai lalu masak hingga mendidih
*Masukan ikan tongkol tunggu hingga matang,tambahkan garam secukupnya. Masukan daun kemangi dan diamkan sebentar lalu angkat
*Sajikan

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Aku perantau pemula. Lebih kurang 8 bulan aku menempati kota baru ini. Sebut saja nama kotanya X. Kota yang bagi kebanyakan orang menyenangkan dan termasuk dalam daftar kota tujuan wisata. Kalau hari sudah libur kota ini makin sesak. Pendatang berseliweran, kenderaan lalu lalang entah dari mana. Hotel dan restoran nyaris penuh.

Tapi bagiku kota ini biasa saja. Justru memusingkan hehe...Kalau karena alasan macet di kota asalku pun hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Jadi sudah mahfum. Sementara kalau tentang pusat perbelanjaan tidak kalah banyak dengan yang ada di kotaku.

Sebenarnya persoalan hanya satu. Andai saja itu bisa tertanggulangi dengan baik barangkali aku lebih mudah berdamai dengan kota X ini. Persoalan yang dimaksud yakni sampah. Lebih tepatnya tempat pembuangan sampah. Mungkin terdengar aneh tapi ini realitanya. Kenyataan yang tiap hari mesti aku pikirkan.

Ketika sampah rumah tangga sudah menggunung di rumah aku kebingungan untuk membuangnya. Tidak mungkin dibiarkan teronggok di dalam rumah. Bukan saja akan menimbulkan bau tak sedap tapi juga akan memunculkan binatang. Lantas solusinya harus dibuang ke luar rumah. Meletakkanya dalam lubang sampah yang disediakan di depan rumah mestinya menjadi solusi ketika petugas sampah rajin mengambilnya. Sayang kenyataanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terkadang seminggu sekali petugas sampah belum tentu mampir ke rumah ku.

Kalau sudah gitu hmm bau busuk pun menyengat menusuk hidung. Lalat mulai bermunculan. Ingin rasanya aku bakar semua sampah busuk itu tapi masyarakat di sekitarku melarangnya. Alasan mereka asap sampah akan membawa polusi. Sementara untuk menimbunnya pun sudah tidak ada lahan. Alhasil jalan keluar adalah membuangnya ke jalan-jalan yang memang sudah dipenuhi sampah atau cara lebih bijaknya membawa sampah ke mall dan membuangnya di tong sampah mall. Cara kedua ini lebih sering aku lakukan lantaran lebih baik dari cara pertama.

Sungguh aku heran ketika kota ini dipenuhi dengan beragam mall yang menawarkan kemolekannya dan kecanggihannya tapi masalah sampah belum tertangani dengan baik. Alhasil muncullah generasi yang tidak ada malu membuang sampah di jalan, seolah berlomba makin banyak makin baik.

Aku pikir kota ini memiliki SDM yang hebat. SDM yang seyogyanya mampu mengolah bahan limbah menjadi bahan berguna. Apalagi didukung di kota ini pula sebuah lembaga pendidikan teknologi yang hebat hadir. Andai saja para pemikir dan ilmuwan itu mau meluangkan waktunya sedikit untuk menangani sampah, bukan tidak mungkin lahirlah sebuah pembangkit listrik tenaga sampah sehingga masyarakat Indonesia khususnya yang berada di desa terpencil tidak lagi merasakan gulita.  

Minggu, 24 April 2011

Peristiwa di Atas Kasur

Aku tahu dia lelah. Matanya sudah sayu tapi dia tetap bertahan. Berkali-kali dia menguap tapi lagi dia tidak mau memejamkan matanya. Keinginannya bermain menenggelamkan rasa kantuknya. Disaat yang bersamaan tubuhku merasa linu. Ingin rasanya beristirahat sejenak. Aku bujuk dia agar mau tidur. " Kak, kita tidur yuk, nanti jam 12 bangun terus mandi dan makan, hayuklah kak? Aku memang biasa memanggilnya dengan kakak. Kupikir kelak ia akan menjadi kakak bagi adik-adiknya. Nama gadis cilik yang sedang aku bicarakan adalah Lintang.

Siang itu dia terus saja menggoda, mengajak ku bermain. Sayang aku sudah tidak kuat melayaninya. Kak, tidur aja yuk, nanti lagi kita main, kataku. Lintang seolah tidak mendengar. Tubuhnya sengaja ia jatuhkan ke tubuhku. Dan itu dia lakukan berkali-kali hingga aku merasa sakit. Aku membiarkannya, aku menunggu ia lelah dan akan berhenti dengan sendirinya. Tapi prediksiku meleset. Lintang terus saja bermain hingga kesabaranku hilang, Aku menghindari dan memilih berbaring di kasur dengan posisi jauh dari Lintang.

Lagi, dia terus mendekatiku dan menindihku. Aku kesel dengan tindakannya. Ingin marah tapi aku berusaha menahannya. Saking keselnya aku menangis. Bulir-bulir air dari sudut mataku mengalir membasahi pipi. Makin lama makin deras ia keluar. Aku membiarkannya hingga Lintang menatapku.Ia menghentikan aktivitasnya dan mulai memperhatikanku. "Ibu angis,"katanya mendekatiku. "Ibu angis, ibu, ibu, "katanya sambil terus memanggil namaku. "Ibu aap, ibu intang aap, "ujarnya. Suaranya makin keras hingga ia pun menangis. Seolah mengerti ia salah, kata maaf yang kurang sempurna diucapkan keluar dari bibir mungilnya berkali-kali. Mendengarnya aku makin tak kuasa, air mata terus mengalir hebat.

Ada haru, bangga dan sedih, keseluruhan rasa itu membaur jadi satu. Haru dan bangga karena di usianya yang masih belia dia sudah memiliki empati. Sedih karena aku hanya mampu memberinya sayang dan kasih tanpa fasilitas lainnya.

" Lintang ibu minta maaf ya nak belum bisa memberikan banyak hal, ibu sayang dengan kakak," lirihku. Aku mendekatinya, memeluknya erat hingga tangisnya berhenti. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya sambil mengucapkan, Ibu sayang dengan Lintang. "Iya bu,"jawabnya lembut. Hingga beberapa menit berlalu kami masih berpelukan dan gadis kecilku pun terlelap. Aku membaringkannya di atas kasur dan menatapnya pekat. Dalam hati aku berujar, Terima Kasih Allah.