Aku tahu dia lelah. Matanya sudah sayu tapi dia tetap bertahan. Berkali-kali dia menguap tapi lagi dia tidak mau memejamkan matanya. Keinginannya bermain menenggelamkan rasa kantuknya. Disaat yang bersamaan tubuhku merasa linu. Ingin rasanya beristirahat sejenak. Aku bujuk dia agar mau tidur. " Kak, kita tidur yuk, nanti jam 12 bangun terus mandi dan makan, hayuklah kak? Aku memang biasa memanggilnya dengan kakak. Kupikir kelak ia akan menjadi kakak bagi adik-adiknya. Nama gadis cilik yang sedang aku bicarakan adalah Lintang.
Siang itu dia terus saja menggoda, mengajak ku bermain. Sayang aku sudah tidak kuat melayaninya. Kak, tidur aja yuk, nanti lagi kita main, kataku. Lintang seolah tidak mendengar. Tubuhnya sengaja ia jatuhkan ke tubuhku. Dan itu dia lakukan berkali-kali hingga aku merasa sakit. Aku membiarkannya, aku menunggu ia lelah dan akan berhenti dengan sendirinya. Tapi prediksiku meleset. Lintang terus saja bermain hingga kesabaranku hilang, Aku menghindari dan memilih berbaring di kasur dengan posisi jauh dari Lintang.
Lagi, dia terus mendekatiku dan menindihku. Aku kesel dengan tindakannya. Ingin marah tapi aku berusaha menahannya. Saking keselnya aku menangis. Bulir-bulir air dari sudut mataku mengalir membasahi pipi. Makin lama makin deras ia keluar. Aku membiarkannya hingga Lintang menatapku.Ia menghentikan aktivitasnya dan mulai memperhatikanku. "Ibu angis,"katanya mendekatiku. "Ibu angis, ibu, ibu, "katanya sambil terus memanggil namaku. "Ibu aap, ibu intang aap, "ujarnya. Suaranya makin keras hingga ia pun menangis. Seolah mengerti ia salah, kata maaf yang kurang sempurna diucapkan keluar dari bibir mungilnya berkali-kali. Mendengarnya aku makin tak kuasa, air mata terus mengalir hebat.
Ada haru, bangga dan sedih, keseluruhan rasa itu membaur jadi satu. Haru dan bangga karena di usianya yang masih belia dia sudah memiliki empati. Sedih karena aku hanya mampu memberinya sayang dan kasih tanpa fasilitas lainnya.
" Lintang ibu minta maaf ya nak belum bisa memberikan banyak hal, ibu sayang dengan kakak," lirihku. Aku mendekatinya, memeluknya erat hingga tangisnya berhenti. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya sambil mengucapkan, Ibu sayang dengan Lintang. "Iya bu,"jawabnya lembut. Hingga beberapa menit berlalu kami masih berpelukan dan gadis kecilku pun terlelap. Aku membaringkannya di atas kasur dan menatapnya pekat. Dalam hati aku berujar, Terima Kasih Allah.