Maya Dewi Kurnia (dimuat pada harian Medan Bisnis, April 2013)
Timang-timang anakku sayang buah hati ayahnda
seorang. Jangan marah dan jangan merajuk sayang tenanglah dikau di dalam buaian. Betapakah hati takkan
riang bila kau bergurau dan tertawa. Semogalah jadi orang berguna sayang riang
gembira sepanjang masa. Inilah sebagian lirik lagu berjudul Timang-timang
Anakku Sayang yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi Said Effendy.
Pada bait
pertama lagu Timang-timang Anak Ku Sayang ini bercerita tentang curahan hati
seorang ayah saat meninabobokan anaknya. Betapa ia dengan tulus menyayangi,
mencintai anaknya. Saat menyanyikan lagu tersebut ayah membelai, mendekap dan membuai anaknya agar tertidur dengan
nyenyak. Tidak hanya itu pada bait keduanya terselip doa yang diungkapkan orang
tua kepada anak agar di kemudian hari menjadi orang bermanfaat bagi nusa dan
bangsa. Begitu juga dalam kehidupannya senantiasa gembira.
Lagu
bergenre melayu ini lembut dan sempat dikenal di kalangan masyarakat Sumatera
Utara khususnya. Dahulu, ada sebuah tradisi pada masyarakat melayu khususnya ketika
anak berusia di bawah 6 tahun hendak tidur, orang tua bernyanyi. Anak usia di
bawah 6 tahun kini dikenal dengan istilah anak usia dini. Tujuan utama dari
bernyanyi itu untuk memberikan rasa tenang kepada anak hingga ia tidur dengan pulas. Ada lagi lagu bergenre
melayu lainnya yang biasa digunakan orang tua berjudul si Dodoi. Lagu-lagu
tersebut dikenal sebagai nyanyian kelonan anak (lullaby). Nyanyian Kelonan (lullaby)
menurut Dundes dalam Endraswara (2008 : 30))
merupakan tradisi leluhur yang tergolong dalam unsur-unsur folklore.
Bila
ditelusuri, nyanyian kelonan tersebut sebenarnya tidak hanya ada di Sumatera
tetapi di wilayah lain di Indonesia. Beragam suku yang ada di tanah air ini
melahirkan variasi tradisi diantaranya nyanyian kelonan anak yang kental dengan
unsur kedaerahan dengan menggunakan bahasa daerah. Sebut saja nyanyian kelonan
Buai-buai dari Sumatera Barat, Modom
dari Tapanuli Utara, Dodoi dan Timang-timang Anakku Sayang dari Melayu,
Beber-beber Hiding Aing dari Jawa Barat,
dan Gundul Pacul dari Jawa Tengah. Menariknya meski sebagian besar
nyanyian kelonan tersebut menggunakan bahasa daerah tetapi memiliki kesamaan
pada irama lembut, lirik yang mudah dicerna, berisi doa dan ungkapan cinta,
kasih sayang orang tua. Hal itu juga yang membuat tradisi nyanyian kelonan bagian dari pola pengasuhan anak.
Namun seiring
perkembangan zaman, tradisi ini memudar. Nyanyian kelonan (lullaby) tidak lagi menarik perhatian masyarakat sehingga hanya
sekelintir orang tua yang masih mempertahankannya. Kesibukan orang tua di luar
rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyebabkan tidak sedikit dari mereka
kurang peduli dengan anaknya. Sebagai dampaknya tidak heran bila kini banyak
anak yang di usia remajanya bermasalah. Ada yang terlibat tawuran, kekerasan
seksual, pemakai obat-obatan terlarang,
dan jauh dari nilai agama serta kesopanan. Lemahnya peranan orang tua dan
keengganan melaksanakan tradisi bernilai bisa jadi penyebab maraknya penyakit
sosial tersebut.
Fitrahnya anak terlahir bersih. Jiwanya
bagaikan lembaran kertas putih. Orang tua dan lingkungan sekelilingnya yang
akan mewarnai kertas putih itu. Bila anak diajarkan hal yang baik maka ia
bertumbuh menjadi pribadi yang baik begitu juga sebaliknya. Seperti yang
diutarakan Edwards dalam Endraswara (2009:63) bahwa anak dibesarkan dan belajar
tidak dalam kevakuman budaya. Budaya yang dimaksud berbagai adat istiadat
kebiasaan, perilaku verbal, dan non verbal seperti yang didemonstrasian secara
jelas oleh lingkungan keluarga.
Anak yang diberi kasih sayang baik
secara verbal (kata-kata kasih sayang, pujian, kata-kata yang membesarkan hati)
maupun fisik seperti ciuman, elusan di kepala, pelukan akan membuat dirinya
merasa diterima. Tindakan demikian nantinya akan membuat anak bertumbuh menjadi
orang yang pro-sosial, mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, serta sangat
peduli dengan lingkungannya. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak diasuh
dengan cinta dan kasih akan menghasilkan anak minder, selalu berpandangan
negatif, acuh tak acuh bahkan berperilaku agresif.
Patut
diingat anak-anak merekam apa yang dia lihat, dengar dari sekolah pertamanya
yakni orang tua. Mereka mengingat input tersebut dalam memorinya lalu
mengejewahantahkan menjadi perilaku.. Disamping sifat egosentris, sifat lain
yang melekat pada diri mereka yakni imitasi.
Sebenarnya
persoalan yang menghimpit remaja masa kini bisa dicegah. Caranya mudah apabila
sejak dini orang tua mau meluangkan waktunya untuk bercengkrama, berani
mengutarakan dan menunjukan rasa sayangnya kepada anak persoalan. Lewat
nyanyian kelonan yang berlirik sederhana
kemudian dilantunkan orang tua kepada anaknya, kedekatan diantara
keduanya terbina. Anak akan merasa dirinya dihargai dan dicintai. Selain itu
memberikan pengaruh pada kualitas anak di masa mendatang. Sudah sepatutnya kita
kembali ke tradisi leluhur kita yang bernilai. Tradisi yang mengajarkan
nilai-nilai kebaikan yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar