Ditulis oleh
Maya Dewi Kurnia (dimuat di harian Radar Cirebon, April 2013)
Masih segar di ingatan perasaan berdebar-debar ketika petugas pos
memanggil dari depan rumah kemudian menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan
untuk saya. Belum berhenti sampai disitu perasaan senang tiba-tiba muncul
ketika mengetahui surat itu datang dari sahabat yang berada jauh di kota lain. Tak
sabar untuk segera membaca isi surat tersebut itu . Saya pun penasaran ingin melihat tulisan
tangan sahabat pada kertas bermotif berisi tentang pengalamannya. Bagi saya hal itu merupakan kepuasaan
tersendiri. Sungguh, menulis surat, mengirim, dan menerima balasan surat aktivitas
yang kini saya rindukan dan mungkin masyarakat lain.
Tahun berganti tradisi tak lagi sama.
Teknologi yang berkembang mengubah tradisi yang dahulu dilakukan banyak masyarakat
yakni menulis surat. Lebih dari satu dasawarsa tradisi menulis surat pribadi
khususnya sudah mulai ditinggalkan. Demi alasan kemudahan, biaya, dan kecepatan,
teknologi seperti sms, hp, email dan blackberry massengger digunakan
masyarakat masa kini untuk mengetahui kondisi sanak saudara, kerabat, dan
orang-orang terkasih yang berlainan wilayah. Bukan itu saja untuk
bersosialisasi pun masyarakat lebih tertarik menggunakan media berteknologi seperti
facebook, twitter. Perkumpulan
sahabat pena yang semula merupakan wadah untuk menjalin silaturahmi dengan
berbagai orang tanpa memandang ras, suku, agama tidak lagi menjadi pilihan. Tak
heran perkumpulan itu kini tenggelam serupa halnya dengan perkumpulan pengoleksi perangko (filatelis).
Disadari perkembangan teknologi telah
membuat dunia tanpa batas dan sekat. Orang setiap saat dapat dengan mudah memeroleh
informasi dan berkomunikasi walau berada dalam belahan dunia yang berbeda serta
jarak yang sangat jauh. Hal ini yang tidak dimiliki surat.
Lihat saja penggunaan Short Message Service (SMS) misalnya
dengan beberapa detik pesan singkat dapat terkirim. Untuk mendapatkan
balasannya pun tidak perlu menunggu berhari-hari. Berbeda ketika menulis surat,
seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan balasan dari penerima surat. Jadi
tidaklah mengherankan perubahan tradisi ini juga yang barangkali membuat
sejumlah benda pos berhenti beredar sebut saja warkat pos.
Bukti paling mencolok bahwa tradisi
ini kehilangan massanya, bisa dilihat ketika perayaan besar keagamaan tiba baik
itu lebaran maupun natal. Beberapa tahun lalu tiap mendekati lebaran maupun
natal masyarakat antusias berkirim kartu
ucapan. Mereka bersemangat dan bersukaria memilih kartu ucapan tersebut sesuai
dengan keinginannya. Sekadar menulis ucapan lebaran atau natal kepada sanak
saudara kemudian mengirimkannya menjadi kepuasaan tersendiri. Akan tetapi kini
tradisi menulis kartu ucapan itu nyaris punah dan digantikan dengan teknologi yang
dapat menampilkan gambar, teks, dan suara sekaligus.
Surat Mengembangkan
Budaya Menulis
Dilihat dari sisi positif teknologi
memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Namun teknologi juga
memiliki sisi negatif yakni hilangnya sebuah tradisi menulis surat yang sarat
dengan humanistik dan emosional. Tradisi yang mengajak penggiatnya untuk berani
mengutarakan ekspresi emosional dirinya baik senang maupun sedih melalui
tulisan tangan yang mencerminkan karakter dan suasana hati penulisnya. Bahkan
surat dengan tulisan tangan ini dapat menghadirkan
imajinasi perjumpaan antara penulis dengan orang yang dirindukannya.
Bukan itu saja, dengan menulis surat
seseorang meningkatkan kecerdasannya, membiasakan dirinya mencipta, kreatif serta
meningkatkan percaya diri. Menulis surat juga dapat mengembangkan kepuasaan
batin. Mengapa demikian? Saat surat dikirim seseorang kemudian mendapatkan
balasan tentu ada perasaan puas yang dialami penulis. Perasaan puas juga
diperoleh ketika surat dapat disimpan dan dibaca berulang-ulang kapan saja
sesuai dengan keinginan hati penulisnya.
Hilangnya tradisi menulis surat pribadi sebenarnya berpengaruh
terhadap tradisi tulisan tangan. Tulisan tangan berarti cara menulis dengan
tangan bukan ditik. Tiap orang memiliki tulisan tangan yang berbeda dan unik.
Tulisan tangan tersebut juga menunjukkan kepribadian dan perasaan hati penulisnya.
Menurut saya tentu surat pribadi yang ditulis tangan berbeda maknanya dengan surat
yang ditulis dengan bantuan komputer dan mesin tik. Namun menulis surat dengan
bantuan teknologi memiliki kelebihan naskah yang diketik dapat disimpan dalam media
penyimpanan flash disk selanjutnya
dicetak dengan printer. Apabila diperlukan naskah yang tersimpan bisa dibuka
dan diedit kembali sewaktu-waktu. Format tulisannya pun dapat diatur sesuai
keinginan penulisnya.
Ya, menulis surat dengan tulisan tangan merupakan warisan
leluhur yang bernilai. Sebab dengan aktivitas itu penulis mampu mengekpresikan
isi hati dan jiwanya baik emosi kesedihan, kepiluan, kebahagiaan dan kesenangan
yang dirasakannya. Disadari sebagai satu dari media komunikasi, pengunaan surat
merupakan pilihan bagi penggunanya. Namun, apabila Anda membutuhkan sebuah
komunikasi bermakna tidak ada salahnya kembali kepada tradisi leluhur yakni menulis
surat, berkirim kartu ucapan lebaran atau pun natal lalu kemukakan perasaan
Anda. Satu yang patut diingat bahwa melestarikan tradisi menulis surat dengan
tulisan tangan merupakan upaya pengembangan budaya menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar