Selasa, 23 April 2013

Surat, Riwayatmu Kini



Ditulis  oleh Maya Dewi Kurnia (dimuat di harian Radar Cirebon, April 2013)
Masih segar di ingatan  perasaan berdebar-debar ketika petugas pos memanggil dari depan rumah kemudian menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan untuk saya. Belum berhenti sampai disitu perasaan senang tiba-tiba muncul ketika mengetahui surat itu datang dari sahabat yang berada jauh di kota lain. Tak sabar untuk segera membaca isi surat tersebut itu .  Saya pun penasaran ingin melihat tulisan tangan sahabat pada kertas bermotif berisi tentang pengalamannya.  Bagi saya hal itu merupakan kepuasaan tersendiri. Sungguh, menulis surat, mengirim, dan menerima balasan surat aktivitas yang kini saya rindukan dan mungkin  masyarakat lain.
Tahun berganti tradisi tak lagi sama. Teknologi yang berkembang mengubah tradisi yang dahulu dilakukan banyak masyarakat yakni menulis surat. Lebih dari satu dasawarsa tradisi menulis surat pribadi khususnya sudah mulai ditinggalkan. Demi alasan kemudahan, biaya, dan kecepatan, teknologi seperti sms, hp, email dan blackberry massengger digunakan masyarakat masa kini untuk mengetahui kondisi sanak saudara, kerabat, dan orang-orang terkasih yang berlainan wilayah. Bukan itu saja untuk bersosialisasi pun masyarakat lebih tertarik menggunakan media berteknologi seperti facebook, twitter. Perkumpulan sahabat pena yang semula merupakan wadah untuk menjalin silaturahmi dengan berbagai orang tanpa memandang ras, suku, agama tidak lagi menjadi pilihan. Tak heran perkumpulan itu kini tenggelam serupa halnya dengan  perkumpulan pengoleksi perangko (filatelis).
Disadari perkembangan teknologi telah membuat dunia tanpa batas dan sekat. Orang setiap saat dapat dengan mudah memeroleh informasi dan berkomunikasi walau berada dalam belahan dunia yang berbeda serta jarak yang sangat jauh. Hal ini yang tidak dimiliki surat.
Lihat saja penggunaan Short Message Service (SMS) misalnya dengan beberapa detik pesan singkat dapat terkirim. Untuk mendapatkan balasannya pun tidak perlu menunggu berhari-hari. Berbeda ketika menulis surat, seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk  mendapatkan balasan dari penerima surat. Jadi tidaklah mengherankan perubahan tradisi ini juga yang barangkali membuat sejumlah benda pos berhenti beredar sebut saja warkat pos.
Bukti paling mencolok bahwa tradisi ini kehilangan massanya, bisa dilihat ketika perayaan besar keagamaan tiba baik itu lebaran maupun natal. Beberapa tahun lalu tiap mendekati lebaran maupun natal  masyarakat antusias berkirim kartu ucapan. Mereka bersemangat dan bersukaria memilih kartu ucapan tersebut sesuai dengan keinginannya. Sekadar menulis ucapan lebaran atau natal kepada sanak saudara kemudian mengirimkannya menjadi kepuasaan tersendiri. Akan tetapi kini tradisi menulis kartu ucapan itu nyaris punah dan digantikan dengan teknologi yang dapat menampilkan gambar, teks, dan suara sekaligus.  

Surat Mengembangkan Budaya Menulis
Dilihat dari sisi positif teknologi memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Namun teknologi juga memiliki sisi negatif yakni hilangnya sebuah tradisi menulis surat yang sarat dengan humanistik dan emosional. Tradisi yang mengajak penggiatnya untuk berani mengutarakan ekspresi emosional dirinya baik senang maupun sedih melalui tulisan tangan yang mencerminkan karakter dan suasana hati penulisnya. Bahkan surat  dengan tulisan tangan ini dapat menghadirkan imajinasi perjumpaan antara penulis dengan orang yang dirindukannya.
Bukan itu saja, dengan menulis surat seseorang meningkatkan kecerdasannya, membiasakan dirinya mencipta, kreatif serta meningkatkan percaya diri. Menulis surat juga dapat mengembangkan kepuasaan batin. Mengapa demikian? Saat surat dikirim seseorang kemudian mendapatkan balasan tentu ada perasaan puas yang dialami penulis. Perasaan puas juga diperoleh ketika surat dapat disimpan dan dibaca berulang-ulang kapan saja sesuai dengan keinginan hati penulisnya.
Hilangnya tradisi menulis surat pribadi sebenarnya berpengaruh terhadap tradisi tulisan tangan. Tulisan tangan berarti cara menulis dengan tangan bukan ditik. Tiap orang memiliki tulisan tangan yang berbeda dan unik. Tulisan tangan tersebut juga menunjukkan kepribadian dan perasaan hati penulisnya. Menurut saya tentu surat pribadi yang ditulis tangan berbeda maknanya dengan surat yang ditulis dengan bantuan komputer dan mesin tik. Namun menulis surat dengan bantuan teknologi memiliki kelebihan naskah yang diketik dapat disimpan dalam media penyimpanan flash disk  selanjutnya dicetak dengan printer. Apabila diperlukan naskah yang tersimpan bisa dibuka dan diedit kembali sewaktu-waktu. Format tulisannya pun dapat diatur sesuai keinginan penulisnya.
Ya, menulis surat dengan tulisan tangan merupakan warisan leluhur yang bernilai. Sebab dengan aktivitas itu penulis mampu mengekpresikan isi hati dan jiwanya baik emosi kesedihan, kepiluan, kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya. Disadari sebagai satu dari media komunikasi, pengunaan surat merupakan pilihan bagi penggunanya. Namun, apabila Anda membutuhkan sebuah komunikasi bermakna tidak ada salahnya kembali kepada tradisi leluhur yakni menulis surat, berkirim kartu ucapan lebaran atau pun natal lalu kemukakan perasaan Anda. Satu yang patut diingat bahwa melestarikan tradisi menulis surat dengan tulisan tangan merupakan upaya pengembangan budaya menulis.

Tidak ada komentar: