Selasa, 23 April 2013

Zaman Berganti, Tradisi Nyanyian Kelonan Ditinggalkan


Maya Dewi Kurnia (dimuat pada harian Medan Bisnis, April 2013)
 
Timang-timang anakku sayang buah hati ayahnda seorang. Jangan marah dan jangan merajuk sayang tenanglah  dikau di dalam buaian. Betapakah hati takkan riang bila kau bergurau dan tertawa. Semogalah jadi orang berguna sayang riang gembira sepanjang masa. Inilah  sebagian lirik lagu berjudul Timang-timang Anakku Sayang yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi Said Effendy.
Pada bait pertama lagu Timang-timang Anak Ku Sayang ini bercerita tentang curahan hati seorang ayah saat meninabobokan anaknya. Betapa ia dengan tulus menyayangi, mencintai anaknya. Saat menyanyikan lagu tersebut ayah membelai, mendekap  dan membuai anaknya agar tertidur dengan nyenyak. Tidak hanya itu pada bait keduanya terselip doa yang diungkapkan orang tua kepada anak agar di kemudian hari menjadi orang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Begitu juga dalam kehidupannya senantiasa gembira.
Lagu bergenre melayu ini lembut dan sempat dikenal di kalangan masyarakat Sumatera Utara khususnya. Dahulu, ada sebuah tradisi pada masyarakat melayu khususnya ketika anak berusia di bawah 6 tahun hendak tidur, orang tua bernyanyi. Anak usia di bawah 6 tahun kini dikenal dengan istilah anak usia dini. Tujuan utama dari bernyanyi itu untuk memberikan rasa tenang kepada anak hingga ia  tidur dengan pulas. Ada lagi lagu bergenre melayu lainnya yang biasa digunakan orang tua berjudul si Dodoi. Lagu-lagu tersebut dikenal sebagai nyanyian kelonan anak (lullaby). Nyanyian Kelonan (lullaby) menurut Dundes dalam Endraswara (2008 : 30))  merupakan tradisi leluhur yang tergolong dalam unsur-unsur folklore.
Bila ditelusuri, nyanyian kelonan tersebut sebenarnya tidak hanya ada di Sumatera tetapi di wilayah lain di Indonesia. Beragam suku yang ada di tanah air ini melahirkan variasi tradisi diantaranya nyanyian kelonan anak yang kental dengan unsur kedaerahan dengan menggunakan bahasa daerah. Sebut saja nyanyian kelonan Buai-buai dari Sumatera Barat,  Modom dari Tapanuli Utara, Dodoi dan Timang-timang Anakku Sayang dari Melayu, Beber-beber Hiding Aing dari Jawa Barat,  dan Gundul Pacul dari Jawa Tengah. Menariknya meski sebagian besar nyanyian kelonan tersebut menggunakan bahasa daerah tetapi memiliki kesamaan pada irama lembut, lirik yang mudah dicerna, berisi doa dan ungkapan cinta, kasih sayang orang tua. Hal itu juga yang membuat tradisi nyanyian kelonan  bagian dari pola pengasuhan anak.
Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini memudar. Nyanyian kelonan (lullaby) tidak lagi menarik perhatian masyarakat sehingga hanya sekelintir orang tua yang masih mempertahankannya. Kesibukan orang tua di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyebabkan tidak sedikit dari mereka kurang peduli dengan anaknya. Sebagai dampaknya tidak heran bila kini banyak anak yang di usia remajanya bermasalah. Ada yang terlibat tawuran, kekerasan seksual,  pemakai obat-obatan terlarang, dan jauh dari nilai agama serta kesopanan. Lemahnya peranan orang tua dan keengganan melaksanakan tradisi bernilai bisa jadi penyebab maraknya penyakit sosial tersebut.
 Fitrahnya anak terlahir bersih. Jiwanya bagaikan lembaran kertas putih. Orang tua dan lingkungan sekelilingnya yang akan mewarnai kertas putih itu. Bila anak diajarkan hal yang baik maka ia bertumbuh menjadi pribadi yang baik begitu juga sebaliknya. Seperti yang diutarakan Edwards dalam Endraswara (2009:63) bahwa anak dibesarkan dan belajar tidak dalam kevakuman budaya. Budaya yang dimaksud berbagai adat istiadat kebiasaan, perilaku verbal, dan non verbal seperti yang didemonstrasian secara jelas oleh lingkungan keluarga.
Anak yang diberi kasih sayang baik secara verbal (kata-kata kasih sayang, pujian, kata-kata yang membesarkan hati) maupun fisik seperti ciuman, elusan di kepala, pelukan akan membuat dirinya merasa diterima. Tindakan demikian nantinya akan membuat anak bertumbuh menjadi orang yang pro-sosial, mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, serta sangat peduli dengan lingkungannya. Begitu juga sebaliknya, anak yang tidak diasuh dengan cinta dan kasih akan menghasilkan anak minder, selalu berpandangan negatif, acuh tak acuh bahkan berperilaku agresif.
Patut diingat anak-anak merekam apa yang dia lihat, dengar dari sekolah pertamanya yakni orang tua. Mereka mengingat input tersebut dalam memorinya lalu mengejewahantahkan menjadi perilaku.. Disamping sifat egosentris, sifat lain yang melekat pada diri mereka yakni imitasi.
Sebenarnya persoalan yang menghimpit remaja masa kini bisa dicegah. Caranya mudah apabila sejak dini orang tua mau meluangkan waktunya untuk bercengkrama, berani mengutarakan dan menunjukan rasa sayangnya kepada anak persoalan. Lewat nyanyian kelonan yang berlirik sederhana  kemudian dilantunkan orang tua kepada anaknya, kedekatan diantara keduanya terbina. Anak akan merasa dirinya dihargai dan dicintai. Selain itu memberikan pengaruh pada kualitas anak di masa mendatang. Sudah sepatutnya kita kembali ke tradisi leluhur kita yang bernilai. Tradisi yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak.

Surat, Riwayatmu Kini



Ditulis  oleh Maya Dewi Kurnia (dimuat di harian Radar Cirebon, April 2013)
Masih segar di ingatan  perasaan berdebar-debar ketika petugas pos memanggil dari depan rumah kemudian menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan untuk saya. Belum berhenti sampai disitu perasaan senang tiba-tiba muncul ketika mengetahui surat itu datang dari sahabat yang berada jauh di kota lain. Tak sabar untuk segera membaca isi surat tersebut itu .  Saya pun penasaran ingin melihat tulisan tangan sahabat pada kertas bermotif berisi tentang pengalamannya.  Bagi saya hal itu merupakan kepuasaan tersendiri. Sungguh, menulis surat, mengirim, dan menerima balasan surat aktivitas yang kini saya rindukan dan mungkin  masyarakat lain.
Tahun berganti tradisi tak lagi sama. Teknologi yang berkembang mengubah tradisi yang dahulu dilakukan banyak masyarakat yakni menulis surat. Lebih dari satu dasawarsa tradisi menulis surat pribadi khususnya sudah mulai ditinggalkan. Demi alasan kemudahan, biaya, dan kecepatan, teknologi seperti sms, hp, email dan blackberry massengger digunakan masyarakat masa kini untuk mengetahui kondisi sanak saudara, kerabat, dan orang-orang terkasih yang berlainan wilayah. Bukan itu saja untuk bersosialisasi pun masyarakat lebih tertarik menggunakan media berteknologi seperti facebook, twitter. Perkumpulan sahabat pena yang semula merupakan wadah untuk menjalin silaturahmi dengan berbagai orang tanpa memandang ras, suku, agama tidak lagi menjadi pilihan. Tak heran perkumpulan itu kini tenggelam serupa halnya dengan  perkumpulan pengoleksi perangko (filatelis).
Disadari perkembangan teknologi telah membuat dunia tanpa batas dan sekat. Orang setiap saat dapat dengan mudah memeroleh informasi dan berkomunikasi walau berada dalam belahan dunia yang berbeda serta jarak yang sangat jauh. Hal ini yang tidak dimiliki surat.
Lihat saja penggunaan Short Message Service (SMS) misalnya dengan beberapa detik pesan singkat dapat terkirim. Untuk mendapatkan balasannya pun tidak perlu menunggu berhari-hari. Berbeda ketika menulis surat, seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk  mendapatkan balasan dari penerima surat. Jadi tidaklah mengherankan perubahan tradisi ini juga yang barangkali membuat sejumlah benda pos berhenti beredar sebut saja warkat pos.
Bukti paling mencolok bahwa tradisi ini kehilangan massanya, bisa dilihat ketika perayaan besar keagamaan tiba baik itu lebaran maupun natal. Beberapa tahun lalu tiap mendekati lebaran maupun natal  masyarakat antusias berkirim kartu ucapan. Mereka bersemangat dan bersukaria memilih kartu ucapan tersebut sesuai dengan keinginannya. Sekadar menulis ucapan lebaran atau natal kepada sanak saudara kemudian mengirimkannya menjadi kepuasaan tersendiri. Akan tetapi kini tradisi menulis kartu ucapan itu nyaris punah dan digantikan dengan teknologi yang dapat menampilkan gambar, teks, dan suara sekaligus.  

Surat Mengembangkan Budaya Menulis
Dilihat dari sisi positif teknologi memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Namun teknologi juga memiliki sisi negatif yakni hilangnya sebuah tradisi menulis surat yang sarat dengan humanistik dan emosional. Tradisi yang mengajak penggiatnya untuk berani mengutarakan ekspresi emosional dirinya baik senang maupun sedih melalui tulisan tangan yang mencerminkan karakter dan suasana hati penulisnya. Bahkan surat  dengan tulisan tangan ini dapat menghadirkan imajinasi perjumpaan antara penulis dengan orang yang dirindukannya.
Bukan itu saja, dengan menulis surat seseorang meningkatkan kecerdasannya, membiasakan dirinya mencipta, kreatif serta meningkatkan percaya diri. Menulis surat juga dapat mengembangkan kepuasaan batin. Mengapa demikian? Saat surat dikirim seseorang kemudian mendapatkan balasan tentu ada perasaan puas yang dialami penulis. Perasaan puas juga diperoleh ketika surat dapat disimpan dan dibaca berulang-ulang kapan saja sesuai dengan keinginan hati penulisnya.
Hilangnya tradisi menulis surat pribadi sebenarnya berpengaruh terhadap tradisi tulisan tangan. Tulisan tangan berarti cara menulis dengan tangan bukan ditik. Tiap orang memiliki tulisan tangan yang berbeda dan unik. Tulisan tangan tersebut juga menunjukkan kepribadian dan perasaan hati penulisnya. Menurut saya tentu surat pribadi yang ditulis tangan berbeda maknanya dengan surat yang ditulis dengan bantuan komputer dan mesin tik. Namun menulis surat dengan bantuan teknologi memiliki kelebihan naskah yang diketik dapat disimpan dalam media penyimpanan flash disk  selanjutnya dicetak dengan printer. Apabila diperlukan naskah yang tersimpan bisa dibuka dan diedit kembali sewaktu-waktu. Format tulisannya pun dapat diatur sesuai keinginan penulisnya.
Ya, menulis surat dengan tulisan tangan merupakan warisan leluhur yang bernilai. Sebab dengan aktivitas itu penulis mampu mengekpresikan isi hati dan jiwanya baik emosi kesedihan, kepiluan, kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya. Disadari sebagai satu dari media komunikasi, pengunaan surat merupakan pilihan bagi penggunanya. Namun, apabila Anda membutuhkan sebuah komunikasi bermakna tidak ada salahnya kembali kepada tradisi leluhur yakni menulis surat, berkirim kartu ucapan lebaran atau pun natal lalu kemukakan perasaan Anda. Satu yang patut diingat bahwa melestarikan tradisi menulis surat dengan tulisan tangan merupakan upaya pengembangan budaya menulis.