
Yang Istimewa Dibalik Dedaunan
Cuma Aceh yang punya makanan yang namanya ayam tangkap. Barangkali orang akan terheran ketika mendengar menu tersebut. Berbagai pertanyaan pun menggayuti pikiran. Nah, tidak jauh dari bandara Sultan Iskandar, Banda Aceh ada sebuah tempat makan yang khusus menyediakan masakan Aceh. Perjalanan menuju kesana sekitar 15 menit jika menggunakan kenderaan roda empat.
Persis di pinggir jalan, sebuah rumah makan yang bergaya Aceh siap menyambut kedatangan para tamunya. Tepat disisi kanan dan kiri bangunan, terhampar sawah hijau nan luas bak permadani. Mata seakan disejukkan oleh pemandangannya. Udara masih terasa sangat segar. Benar menyenangkan berada ditempat ini. Suasana nan asri dan tenang seolah mengajak para tamunya untuk melepaskan penat sejenak.
Rumah Makan Khas Raya Rayeuk, demikian namanya. Bangunan berlantai dua ini kental menonjolkan nuansa Acehnya. Sebagian dinding bangunan sengaja diberi warna-warna khas Aceh seperti merah dan kuning.
Biar lebih bebas melihat sekeliling saya dan dengan sejumlah teman memutuskan untuk duduk di lantai dua. Sama dengan lantai pertama, ruangan pada lantai dua terbilang besar, agaknya mampu menampung 30 orang.
Pemandangan alam jika dilihat dari lantai dua rumah makan terlihat sangat mempesona. Semilir angin menghadirkan kesejukkan tersendiri.
Tak lama dua orang pemuda yang mengenakan busana seragam menghampiri meja kami. Tanpa diberi aba-aba keduanya langsung meletakkan sejumlah hidangan persis dihadapan kami. Tampangnya seperti gulai, sambal, dll. Saya sendiri tidak tahu persis nama menu tersebut. Yang sangat diingat adalah aromanya begitu menyengat dihidung membangkitkan selera.
Tidak cukup dua menu yang tertata diatas meja kala itu melainkan sekitar sembilan hidangan. Mau pilih yang mana, hmm...terserah saja. Rasanya semua sudah lengkap lantas mengapa kami belum diizinkan untuk melahapnya. Waduh, saya heran. Menurut salah satu teman, sajian spesial dari rumah makan ini belum hadir. Jadi harap menunggu sebentar.
Masing-masing kami melanjutkan obrolan kembali. Selang 10 menit pemuda yang tadi membawa dua piring yang berisi makanan. "Nah, ini dia yang dinantikan akhirnya nongol juga,"ujar salah seorang teman. Rasa penasaran makin menggebu ketika melihat makanan yang tertata di piring berwarna hijau. Kenapa daun semua yang menyembul?
Ini ayam tangkap namanya,"ucap salah satu teman menunjuk piring yang berisi dedaunan itu. Mestinya ada ayamnya tapi kok. Eits, tenang dulu. Dibalik dedaunan berwarna hijau tersebut ternyata terdapat beberapa potongan ayam. Mereka tersembunyi diantaranya. Ya begitulah teknik penyajiannya. Penampilan yang demikian menjadikan ayam tangkap istimewa.
Langsung saja sepotong ayam dalam ukuran kecil saya cicipinya. Empuk dan gurih kental terasa dilidah. Bumbunya menyerap ke dalam daging yang dipotong dalam beberapa bagian. Tak mau kalah, daun yang turut serta digoreng bersama dengan ayam juga menghasilkan citarasa spesial. Aromanya sedikit pun tidak hilang walau ikut digoreng. Daun justru renyah saat dikunyah. Adalah daun temurui yang digunakan untuk bahan campuran ayam tangkap.
Sejarahnya nama ayam tangkap sendiri lahir bukan dari para pedagang ayam tangkap. Nama itu tercipta dari ide para penikmatnya. Konon, membuat menu ini membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya si pemilik terpaksa menangkap ayam lebih dulu baru kemudian mengolahnya menjadi hidangan berselera. Jadilah orang menyebutnya ayam tangkap. Sebagian orang ada pula yang mengatakannya ayam sampah lantaran dipenuhi dedaunan. Yang pasti spesialnya ayam tangkap adalah memadukan tiga hal, aroma, rasa dan penampilan. Wah, wah,...
Hidangan lain yang sempat saya cicipi di rumah makan ini tumis ikan kayu. Dinamakan begitu karena ikan sebelumnya dikeringkan sehingga mengeras seperti kayu. Umumnya ikan yang dipakai adalah ikan tongkol. Setelah proses pengeringan yang memakan waktu beberapa hari barulah ikan bisa diolah. Sebagian orang memilih mengolahnya dengan cara menumis, sebagian lagi suka menjadikannya gulai. Praktis setelah ikan diolah, ikan menjadi lunak dan tentunya nikmat untuk disantap. So, kalau ke Banda Aceh, jangan lupa menikmati sensasi kelezatan kulinernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar