
Sate Dengan Suara 'Brak'
Sate matang adalah salah satu makanan yang jamak ditemui di seantero Banda Aceh. Begitupun saya belum mengenal lebih dekat sate matang ini. Kata orang mirip dengan sate kacang, hanya penyajiannya yang berbeda. Rasa penasaran saya pun makin membuncah.
Jadilah, ketika berada di Banda Aceh lalu, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu. Berdasarkan informasi ,didapatlah sebuah tempat yang menjual sate matang paling yahud. Lokasinya berada di sekitar jalan Sri Ratu Safiaruddin Banda Aceh.
Dengan sepeda motor saya dan seorang teman segera meluncur ke lokasi yang dimaksud. Kebetulan cuaca sore itu terlihat cerah. Perjalanan kami pun jadi makin menyenangkan.
Beberapa menit berkeliling, kami tiba di sebuah ruko. Di dalamnya ditata kursi dan meja sederhana begitupula pada terasnya. Agaknya tempat ini sanggup menampung lebih dari 30 orang. Masih di teras ruko, terdapat sebuah gerobak yang berisi sate yang telah ditusuk. Lumrah, saat sore tiba, ruko memang disulap jadi tempat makan.
Biar lebih leluasa menikmati lalu lalang kenderaan, kami akhirnya memilih duduk di teras. Tak lama, seorang pria menghampiri dan bertanya makanan yang ingin dipesan. Langsung saja dengan tegas saya menjawab sate matang.
Saat tengah asyik bersantai tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras. Waduh, apa itu? Usut punya usut ternyata suara itu berasal dari arah gerobak. Seseorang dengan sengaja menggebrak meja dengan sebuah botol. Untuk apa itu dilakukan, ya cuma si penjual yang tahu alasannya.
Lantaran ingin tahu, saya menghampiri gerobak dan mendekati salah satu penjualnya, Rolies. Menurutnya aksi itu bukan pertanda marah. Bukan juga untuk membuat tamu keder. Justru ini adalah tradisi. "Tiap kali ada yang memesan sate matang maka suara 'brak' pun akan terdengar,"ujar Rolies.
Rahasianya, ketika si penjual membubuhi kecap ke dalamnya piring yang berisi sup. Lalu, botol kecap dihentakkan ke meja gerobak sehingga terdengar suara 'brak'. Kebiasaan tersebut kata Roli es sudah lama ada dan memang berasal dari daerah asal sate. Nama matang sendiri diambil dari salah satu desa di Bireun. Penduduknya dikenal jago mengolah daging menjadi sate. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya menghidupi keluarga dengan berjualan sate. Sate matang terdiri dari dua pilihan daging sapi dan kambing.
Yang menarik lainnya adalah cara penyajiannya. Biasa sate dilengkapi dengan lontong. Berbeda dengan sate matang yang justru disajikan dengan nasi putih. Tidak cukup sampai disitu, terdapat juga sup daging. Jadi, sate dibuat dalam satu piring sementara kuah kacang, sup daging, nasi dan sambal ditata dalam piring yang terpisah.
Nah, waktunya untuk menjajal makanan yang katanya nikmat. Baru lihat tampangnya saja, perut sudah tidak sabar minta untuk diisi. Aromanya yang menyeruak pun seakan turut memanggil. Dan ternyata benar kata orang orang, hidangan khas Aceh yang bikin kaget ini enak. Dagingnya empuk dan legit. Kuah kacangnya terasa pas dilidah, sama dengan supnya yang gurih.
Pada jam makan malam, tempat makan ini selalu penuh. Jalanan pun disesaki oleh kenderaan yang parkir. Mengenai harga, jangan khawatir cukup dengan membayar Rp 18000 seporsi sate matang bisa segera dicicipi. Yang jelas kesan pertama saya merasakan sate matang di tempat yang sudah berdiri sejak tahun 1980an cukup memuaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar