Rabu, 02 Januari 2008


Aceh Juga Punya Rujak


Terik matahari terasa kian menyengat. Angin agaknya enggan pula berhembus. Udara kala siang itu boleh dikata cukup membikin gerah. Ya,cuaca di banda Aceh ketika saya kunjungi beberapa waktu lalu memang tidak bersahabat. Begitupun negeri yang dijuluki Serambi Mekkah ini masih menarik untuk dijelajahi. Berbagai tempat bersejarah yang masih terawat siap untuk membawa pengunjungnya ke masa lalu.

Aceh kini memang terlihat lebih hidup. Pembangunan tampak disana sini. Luka akibat gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh di tahun 2004 agaknya mulai sembuh. Kondisi daerah yang makin aman membuat warga lebih leluasa untuk beraktivitas. Banyak yang berubah dari Aceh pasca tsunami. Yang menonjol adalah ramainya pedagang makanan di kota Banda khususnya dari yang tradisional hingga import, ada kok.

Ditengah bergeliatnya bisnis makanan di kota itu, ada yang masih bertahan hingga kini. Rujak Aceh Garuda, namanya. Atas rekomendasi teman jadilah saya mengunjungi tempat yang dimaksud. Letak Rujak Garuda berada di jalan T. Dibaroh Banda Aceh. Dari Mesjid Baiturrahman butuh waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.

Tak lama sampailah saya di tempat tersebut. Papan bertuliskan Rujak Garuda seperti sudah siap menyambut para tamu. Tempat ini terlihat bersih. Kursi dan meja tertata rapi. Yang menggemaskan aneka buah segar tersusun menarik di lemari kaca. Sungguh, pemandangan yang menggoda selera. Apalagi disaat cuaca panas kayak begini. Wuihh..

Tak mau berlama-lama lagi, seporsi rujak aceh dipesan. Saya pun makin penasaran dengan makanan dari negeri ini. Apa ya kira-kira keistimewaannya? Sekilas kelihatan tidak ada beda tampang rujak aceh dengan rujak yang dijual kebanyakan orang. Tapi tidak bila diperhatikan dengan seksama proses pembuatannya.

Yuk mari, cari tahu mengenai pembuatannya. Adalah Hasballah(54), pemilik tempat sekaligus resep rujak ini.

Untuk membuatnya dibutuhkan cabe yang lebih dulu direbus dan digiling halus. Lalu diberi buah rumpia dan buah batok. Nah, cuma di rujak Acehlah kedua buah tersebut digunakan. Menurut Hasballah buah rumpia bermanfaat untuk mencegah sakit perut sama juga dengan buah batok yang permukaan kulitnya keras dan besar. Ketika mau dipergunakan, keduanya dibelah, dagingnya diambil sedikit kemudian digiling. Saat mulai halus diberi gula merah yang sudah dimasak kemudian air asam jawa. Terakhir diberi campuran kacang giling. Dan, bumbu siap untuk di padu dengan buah segar lainnya. Tapi eits tunggu dulu, semua bahan saya sebutkan tadi ternyata digiling dengan menggunakan cobekan dari kayu lho. Menarik bukan?

Keistimewaan lainnya juga terletak dalam penyajiannya. Buah-buahan yang digunakan sejatinya dicincang. Alhasil bentuknya jadi tidak beraturan. Kadang ada yang besar, ada pula yang kecil. Tapi ya itulah, ciri khasnya rujak Aceh. Bukan sekadar menawarkan kenikmatan, tapi juga menawarkan kesegaran disaat kerongkongan terasa kering lantaran cuaca panas. Yang jelas proses dan bumbu yang tidak lazim dalam membikin rujak ini tentunya menghasilkan kenikmatan yang tak terlupakan. Ini seakan membuktikan bukan cuma Jawa timur yang handal dalam meramu rujak cingur, Aceh juga punya rujak.

Es Buah dengan bumbu rujak


Jika es buah kebanyakan terdiri dari potongan buah yang dicampur dengan air dan sirup. Es buah bikinan Hasballah lain. Bukan sekadar penampilannya yang unik tapi juga rasa. Minuman ini terdiri dari potongan buah segar seperti pepaya, semangka, bengkuang, dll. Umumnya buah disesuaikan dengan selera penikmatnya.

Pada potongan buah tersebut, diatasnya akan diberi es serut kemudian disiram dengan sirup berwarna merah. Pada piring lain bumbu rujak turut disajikan. Keunikan es buah ini lantaran juga dilengkapi dengan bumbu rujak. Jadi, jika Anda tengah berencana akan ke Banda Aceh, barangkali tempat ini bisa dimasukkan ke dalam daftar yang wajib untuk disinggahi.

Yang Istimewa Dibalik Dedaunan


Cuma Aceh yang punya makanan yang namanya ayam tangkap. Barangkali orang akan terheran ketika mendengar menu tersebut. Berbagai pertanyaan pun menggayuti pikiran. Nah, tidak jauh dari bandara Sultan Iskandar, Banda Aceh ada sebuah tempat makan yang khusus menyediakan masakan Aceh. Perjalanan menuju kesana sekitar 15 menit jika menggunakan kenderaan roda empat.


Persis di pinggir jalan, sebuah rumah makan yang bergaya Aceh siap menyambut kedatangan para tamunya. Tepat disisi kanan dan kiri bangunan, terhampar sawah hijau nan luas bak permadani. Mata seakan disejukkan oleh pemandangannya. Udara masih terasa sangat segar. Benar menyenangkan berada ditempat ini. Suasana nan asri dan tenang seolah mengajak para tamunya untuk melepaskan penat sejenak.

Rumah Makan Khas Raya Rayeuk, demikian namanya. Bangunan berlantai dua ini kental menonjolkan nuansa Acehnya. Sebagian dinding bangunan sengaja diberi warna-warna khas Aceh seperti merah dan kuning.

Biar lebih bebas melihat sekeliling saya dan dengan sejumlah teman memutuskan untuk duduk di lantai dua. Sama dengan lantai pertama, ruangan pada lantai dua terbilang besar, agaknya mampu menampung 30 orang.

Pemandangan alam jika dilihat dari lantai dua rumah makan terlihat sangat mempesona. Semilir angin menghadirkan kesejukkan tersendiri.

Tak lama dua orang pemuda yang mengenakan busana seragam menghampiri meja kami. Tanpa diberi aba-aba keduanya langsung meletakkan sejumlah hidangan persis dihadapan kami. Tampangnya seperti gulai, sambal, dll. Saya sendiri tidak tahu persis nama menu tersebut. Yang sangat diingat adalah aromanya begitu menyengat dihidung membangkitkan selera.

Tidak cukup dua menu yang tertata diatas meja kala itu melainkan sekitar sembilan hidangan. Mau pilih yang mana, hmm...terserah saja. Rasanya semua sudah lengkap lantas mengapa kami belum diizinkan untuk melahapnya. Waduh, saya heran. Menurut salah satu teman, sajian spesial dari rumah makan ini belum hadir. Jadi harap menunggu sebentar.

Masing-masing kami melanjutkan obrolan kembali. Selang 10 menit pemuda yang tadi membawa dua piring yang berisi makanan. "Nah, ini dia yang dinantikan akhirnya nongol juga,"ujar salah seorang teman. Rasa penasaran makin menggebu ketika melihat makanan yang tertata di piring berwarna hijau. Kenapa daun semua yang menyembul?

Ini ayam tangkap namanya,"ucap salah satu teman menunjuk piring yang berisi dedaunan itu. Mestinya ada ayamnya tapi kok. Eits, tenang dulu. Dibalik dedaunan berwarna hijau tersebut ternyata terdapat beberapa potongan ayam. Mereka tersembunyi diantaranya. Ya begitulah teknik penyajiannya. Penampilan yang demikian menjadikan ayam tangkap istimewa.

Langsung saja sepotong ayam dalam ukuran kecil saya cicipinya. Empuk dan gurih kental terasa dilidah. Bumbunya menyerap ke dalam daging yang dipotong dalam beberapa bagian. Tak mau kalah, daun yang turut serta digoreng bersama dengan ayam juga menghasilkan citarasa spesial. Aromanya sedikit pun tidak hilang walau ikut digoreng. Daun justru renyah saat dikunyah. Adalah daun temurui yang digunakan untuk bahan campuran ayam tangkap.

Sejarahnya nama ayam tangkap sendiri lahir bukan dari para pedagang ayam tangkap. Nama itu tercipta dari ide para penikmatnya. Konon, membuat menu ini membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya si pemilik terpaksa menangkap ayam lebih dulu baru kemudian mengolahnya menjadi hidangan berselera. Jadilah orang menyebutnya ayam tangkap. Sebagian orang ada pula yang mengatakannya ayam sampah lantaran dipenuhi dedaunan. Yang pasti spesialnya ayam tangkap adalah memadukan tiga hal, aroma, rasa dan penampilan. Wah, wah,...

Hidangan lain yang sempat saya cicipi di rumah makan ini tumis ikan kayu. Dinamakan begitu karena ikan sebelumnya dikeringkan sehingga mengeras seperti kayu. Umumnya ikan yang dipakai adalah ikan tongkol. Setelah proses pengeringan yang memakan waktu beberapa hari barulah ikan bisa diolah. Sebagian orang memilih mengolahnya dengan cara menumis, sebagian lagi suka menjadikannya gulai. Praktis setelah ikan diolah, ikan menjadi lunak dan tentunya nikmat untuk disantap. So, kalau ke Banda Aceh, jangan lupa menikmati sensasi kelezatan kulinernya.

Nyam..nyam


Sate Dengan Suara 'Brak'


Sate matang adalah salah satu makanan yang jamak ditemui di seantero Banda Aceh. Begitupun saya belum mengenal lebih dekat sate matang ini. Kata orang mirip dengan sate kacang, hanya penyajiannya yang berbeda. Rasa penasaran saya pun makin membuncah.

Jadilah, ketika berada di Banda Aceh lalu, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu. Berdasarkan informasi ,didapatlah sebuah tempat yang menjual sate matang paling yahud. Lokasinya berada di sekitar jalan Sri Ratu Safiaruddin Banda Aceh.

Dengan sepeda motor saya dan seorang teman segera meluncur ke lokasi yang dimaksud. Kebetulan cuaca sore itu terlihat cerah. Perjalanan kami pun jadi makin menyenangkan.

Beberapa menit berkeliling, kami tiba di sebuah ruko. Di dalamnya ditata kursi dan meja sederhana begitupula pada terasnya. Agaknya tempat ini sanggup menampung lebih dari 30 orang. Masih di teras ruko, terdapat sebuah gerobak yang berisi sate yang telah ditusuk. Lumrah, saat sore tiba, ruko memang disulap jadi tempat makan.

Biar lebih leluasa menikmati lalu lalang kenderaan, kami akhirnya memilih duduk di teras. Tak lama, seorang pria menghampiri dan bertanya makanan yang ingin dipesan. Langsung saja dengan tegas saya menjawab sate matang.

Saat tengah asyik bersantai tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras. Waduh, apa itu? Usut punya usut ternyata suara itu berasal dari arah gerobak. Seseorang dengan sengaja menggebrak meja dengan sebuah botol. Untuk apa itu dilakukan, ya cuma si penjual yang tahu alasannya.

Lantaran ingin tahu, saya menghampiri gerobak dan mendekati salah satu penjualnya, Rolies. Menurutnya aksi itu bukan pertanda marah. Bukan juga untuk membuat tamu keder. Justru ini adalah tradisi. "Tiap kali ada yang memesan sate matang maka suara 'brak' pun akan terdengar,"ujar Rolies.

Rahasianya, ketika si penjual membubuhi kecap ke dalamnya piring yang berisi sup. Lalu, botol kecap dihentakkan ke meja gerobak sehingga terdengar suara 'brak'. Kebiasaan tersebut kata Roli es sudah lama ada dan memang berasal dari daerah asal sate. Nama matang sendiri diambil dari salah satu desa di Bireun. Penduduknya dikenal jago mengolah daging menjadi sate. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya menghidupi keluarga dengan berjualan sate. Sate matang terdiri dari dua pilihan daging sapi dan kambing.

Yang menarik lainnya adalah cara penyajiannya. Biasa sate dilengkapi dengan lontong. Berbeda dengan sate matang yang justru disajikan dengan nasi putih. Tidak cukup sampai disitu, terdapat juga sup daging. Jadi, sate dibuat dalam satu piring sementara kuah kacang, sup daging, nasi dan sambal ditata dalam piring yang terpisah.

Nah, waktunya untuk menjajal makanan yang katanya nikmat. Baru lihat tampangnya saja, perut sudah tidak sabar minta untuk diisi. Aromanya yang menyeruak pun seakan turut memanggil. Dan ternyata benar kata orang orang, hidangan khas Aceh yang bikin kaget ini enak. Dagingnya empuk dan legit. Kuah kacangnya terasa pas dilidah, sama dengan supnya yang gurih.

Pada jam makan malam, tempat makan ini selalu penuh. Jalanan pun disesaki oleh kenderaan yang parkir. Mengenai harga, jangan khawatir cukup dengan membayar Rp 18000 seporsi sate matang bisa segera dicicipi. Yang jelas kesan pertama saya merasakan sate matang di tempat yang sudah berdiri sejak tahun 1980an cukup memuaskan.