Rabu, 21 Agustus 2013

Doa di Malam Tahun Baru



(Bandung, akhir tahun 2010)
Maya Dewi Kurnia

Masih sama dengan hari kemarin. Rutinitasku hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur. Bahkan sampai malam menunjukkan pukul 22.00 aku masih disibukkan dengan setumpuk pakaian di kamar mandi. Malam ini adalah malam terakhir di bulan desember. Itu pertanda tahun akan berganti. Menurut sebagian orang malam pergantian tahun wajib dirayakan dengan kemeriahan dilengkapi hidangan nikmat, pekikan terompet dan gemerlap cahaya kembang api di langit. Tapi bagi sebagian orang lagi malam penghujung bulan desember ini  bukanlah hari yang special. Tidak ada aktivitas yang berubah dari hari sebelumnya. Tidak ada rehat sejenak menyambutnya. Tubuh terus saja bekerja berjibaku demi kelangsungan hidup. Kaki dan tangan mereka tanpa henti mengais rezeki untuk makan esok hari dan selanjutnya. Bahkan perenungan pun tidak dilakukan pada akhir tahun sebab tiap hari adalah perenungan. 

Aku bagian dari mereka yang menganggap tahun baru biasa.  Doa yang saban hari aku panjatkan tak cuma ketika Desember  tahun ini berakhir adalah semoga aku menjadi ibu yang sholeha untuk anak, amin. Allah memudahkan hidupku, beri aku dan keluarga sehat agar senantiasa bisa berbagi dengan orang yang ada di sekitarku. Semoga esok, cahaya itu hadir dan membawa perubahan yang baik buat hamba dan orang yang kami sayangi, amin. Allah kabulkan keinginanku. Terima kasih untuk warna warni kehidupan yang Kau berikan selama setahun ini, amin….

Senin, 19 Agustus 2013

Menelusuri Kampung Madras Dulu dan Kini




Maya Dewi Kurnia
(catatan perjalanan sejarah, ditulis sekitar tahun 2009)

Ini cerita tentang sebuah perkampungan yang ada di tengah kota Medan. Perkampungan yang didiami lebih dari 100 jiwa orang India berkulit gelap. Masyarakatnya menyebutnya dengan kampung Keling atau kampung Madras atau dalam bahasa Ingrisnya little India. Etnis India ini tiba di Medan sekitar abad 19. Mereka dibawa dari sebuah daerah bernama Madras di India oleh pemerintahan Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Sumatera sebagai buruh kasar.

Hari masih belum terlalu sore. Jarum jam baru menunjukkan angka 3. Di sebuah warung nasi sederhana depan salah satu toko bakery di Jalan Tarumanegara Medan, pria berkulit hitam beretnis India itu melepaskan penatnya. Syamsuddin (70), sapaan akrabnya duduk di bangku kayu dengan mata yang tetap mengarah ke arah seberang, tempat ia menggelar dagangan majalah dan koran. Sementara di depannya, ada Sami (49), keturunan etnis Tamil  yang juga tengah duduk. Saban siang ketika tidak ada rutinitas yang padat, keduanya bersantai di warung sambil menikmati secangkir teh atau kopi, melihat orang yang berlalu lalang. Tak jarang cuma mengobrol dengan menggunakan bahasa yang terdengar tidak lazim. " Ini bahasa India Tamil," jelas Sami kepada MedanBisnis yang duduk diantaranya.

Bahasa Tamil belakangan jarang dituturkan. Tentu bukan tanpa sebab, salah satunya karena tidak banyak keturunan India Tamil yang bisa menggunakannnya. " Hanya generasi tua. Kalau anak mudanya sama sekali tidak mengerti bahasa Tamil. Mereka tidak tertarik mempelajarinya," ucap Sami. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai marketting di perusahaan swasta ini  mengaku acapkali mengajari anaknya berbahasa Tamil di rumah. Bahkan sempat dileskan.  Sayang ketertarikan mereka hanya sementara. Cukup sekali saja belajar sisanya malas dan memutuskan berhenti.  Mungkin karena bahasa Tamil bukan bahasa Internasional tidak seperti bahasa Inggris. Prihatin memang dengan kondisi demikian terlebih bahasa Tamil bagian dari peninggalan leluhur tapi Sami dan Syamsuddin tidak bisa berbuat. Mereka cuma mampu mengelus dada memakluminya.

Tak lama berselang, dua orang gadis berhidung mancung berkulit hitam melintas. Sepertinya mereka juga keturunan India.  Mereka berjalan masuk menuju sebuah lorong yang masih berada di Kampung Madras. Menit berikutnya ada lagi pria bertubuh tegap, berkulit pekat mengendarai sepeda motor masuk ke dalam itu juga.

Menurut Syamsuddin ada banyak keturunan etnis india tamil yang khas dengan kulit hitamnya tinggal disini. Sebagian mereka Ada beragama Hindu. Sebagian lagi  menganut islam. Sebagai bukti peninggalan orang India Tamil beragama Hindu terdapatnya kuil yang telah berdiri ratusan tahun yakni Kuil Shri Marriaman dan Kuil Chettiar.  Ada pula mesjid Ghaudiyah, peninggalan masyarakat India muslim.

Orang keturunan India di kampung ini menetap entah sudah beberapa generasi dari nenek, ibu, anak, cucu hingga cicit. Syamsuddin mengisahkan konon orang India datang ke Medan menjadi buruh perkebunan dan kuli yang membangun jalan. Sejak berada di Medan mereka pun menempati tanah kosong di kampung ini. Sebagian tanah yang didiami warga milik Chong A Fie. Batasannya dari Jalan Erlangga sampai dengan Kebon Bunga. Sebagian milik orang kaya India, Delib Sing. Batasannya dari Jalan Tarumanegara sampai dengan Pagaruyung. Soal disewa atau diberikan kepada warga ia tidak mengetahuinya.

Versi lainnya disebutkan Ramli(76) sesepuh kampung, tanah yang ditempati warga kampung keling milik kesultanan Deli. Ia tidak tahu persis tanah itu diberikan kesultanan dan disewakan kepada warga. Yang diketahuinya dengan jelas, kampung madras dari tahun ke tahun makin riuh. Dulu anak-anak dengan leluasa bermain dan berlari. Sekarang untuk menanam satu bunga pun sudah tidak ada tempat.

Sebenarnya dari dulu kampung madras menurut Ko Han (60), warga yang menghuni Kampung Madras dari tahun 1963 tidak pernah sepi cuma memang tidak sepadat saat ini. Sejumlah toko-toko yang menjual barang-barang impor berdiri. Boleh jadi hanya orang-orang berduit yang bisa berbelanja. Masa itu Kampung Madras dikenal sebagai pusat toko-toko mewah. Seiring waktu, pusat perbelanjaan tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Toko-toko mewah akhirnya kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan raksasa. Warga keturunan India yang dulunya bekerja sebagai pegawai toko kehilangan pekerjaan. Untuk bertahan hidup mereka beralih profesi. Ada yang menjadi tukang parkir. Ada pula yang menjadi pedagang makanan.

Mie rebus, roti canai dan martabak telur beberapa kreasi masakan yang dibuat orang keturunan india. Tak disangka dalam perjalanannya diterima masyarakat lokal. Ketiganya pun hingga kini menjadi ikon kuliner Medan. Salah satu tempat yang menyediakan pusat makanan khas India di kampung madras yakni Jalan pagaruyung.  Sebagian lagi menyebar di Jalan Cik Ditiro dan jalan Zainul Arifin hingga jembatan kebajikan yang menjadi batas terakhir Kampung Madras.

Syamsuddin menjelaskan kampung itu dahulu memang tidak serupa dengan sekarang. Yang mendiaminya makin beragam tidak hanya keturunan India. Tentang  kebiasaan dan kebudayaan, sebagian masih tersisa tapi sebagian lagi hilang di telan zaman. Salah satu yang telah terkikis tonel yakni  seni drama yang dilengkapi tarian dan nyanyian India. Di tahun 80an, tonel sempat popular di kalangan masyarakat keturunan India. Tapi lebih dari satu dasarwarsa tonel sudah tidak diperlihatkan lagi. Tak ada lagi generasi yang meneruskannya. Sama juga dengan kegiatan keagamaan keturunan India Tamil, Thai Pusam yang diikuti dengan mengarak kereta kencana. Terakhir kata dia, kereta kencana diarak tahun 1972. Sesudahnya tidak pernah lagi.

Sami, Syamsuddin, dan Ko Han, beberapa keturunan India yang ada di Medan. Mereka mengaku beberapa saudara masih tinggal di india. Waktu nenek dan kedua orang tuanya masih hidup, sesekali ada keluarga dari negeri asal aktor Shah Rukh Khan datang berkunjung. Tapi sekarang sudah tidak. Boleh dibilang mereka telah putus hubungan dengan keluarga di India. Tidak tahu lagi siapa dan dimana mereka. Lama telah menjadi bagian dari negara Indonesia membuat ketiganya tidak merindukan tanah leluhur. " " Justru saya akan lebih rindu kalau tidak tinggal di Indonesia," tegas Sami.  

*             *             *
Keanekaragaman Yang Menyatu

Terselip diantara rumah toko atau dikenal ruko yang memadati sebagian besar kawasan di Madras ada pemukiman padat penduduk yang hadir. Orang mengenalnya dengan kampung kubur. Kalau dari jalan besar Zainul Arifin pemukiman tersebut sama sekali tidak terlihat. Kalau pun ingin mengamatinya dengan jelas bisa dari gedung menjulang yang berada di seberang sungai Babura.  Untuk memasuki kampung yang namanya agak serem ini bisa melalui sebuah gang bernama batik keris.

Gang ini terbilang sempit. Barangkali cuma sepeda motor yang bisa masuk ke dalamnya. Tepat disisi kanan gang ada tembok yang panjangnya kira-kira 5 meter. Di balik tembok ada area pekuburan milik India muslim. Dari sinilah asal muasal nama kampung kubur. Sementara disisi kiri gang terdapat rumah-rumah penduduk yang saling berhimpitan. Ukurannya tidak besar dengan perabotan yang sederhana. Dari pintu dan jendela yang ternganga tampak cuma televisi. Di luar segerombolan anak bermain.

Pelan berjalan ditemui lagi rumah-rumah penduduk. Satu dengan yang lainnya berhadapan dan berdekatan tanpa sekat. Ukurannya pun tidak besar tapi permanen dan bertingkat. Warga membuatnya dari beton agar bangun tetap kokoh. Soalnya mereka trauma dengan kebakaran yang pernah melanda kampung tahun 2001 dan menghancurkan tempat tinggal mereka yang berbahan kayu dan triplek. Tak cuma itu, mereka juga membangun rumahnya bertingkat. Salah satu tujuannya untuk mengakali ruangan. Maklumlah lahan yang dimiliki sempit.  Umumnya lantai dua rumah digunakna untuk kamar dan jemuran. Tidak heran bila menengadah diantara lorong gang tersebut yang pertama kali terlihat kemeja, celana bergantungan. Saking padatnya seakan tak ada tempat untuk si raja siang bersinar dengan leluasa. Ia hanya bisa tersembunyi malu-malu diantara rumah bertingkat dan berhimpitan.

Seperti biasa, saat sore tiba kaum ibu sebagian besar duduk bersantai di teras rumahnya masing-masing. Sesekali terdengar derai tawa yang mewarnai pembicaraan mereka. Tak mau kalah, kaula mudanya pun berkumpul di tiap sudut lorong. Bermain kartu, berjudi atau sekadar merokok menjadi pemandangan yang lumrah. Giliran anak-anak terpelongoh menonton tayangan film kartun yang ada di televisi. Sebagian lagi  berkejaran masuk lorong yang satu ke lorong berikutnya. Ya, Kampung Kubur memiliki banyak lorong. Ibarat labirin, begitulah kondisi di dalamnya. Barangkali mereka yang baru pertama masuk kampung akan kesulitan menemukan jalan keluar.

Walau demikian keakraban antar warga jelas tergambar disini padahal suku dan latar belakang budayanya berbeda. Santi misalnya bersuku betawi, Sami keturunan India Tamil sedangkan Linda berdarah minang dan aceh.

Soal semangat tolong menolong tidak perlu diragukan. Santi (38), ibu beranak dua ini menegaskan saat salah satu keluarganya meninggal maka warga lainnya tanpa diminta segera membantu. Sebaliknya ketika salah satu tetangga mengadakan hajatan pernikahan, seluruh warga di kampung ini segera mengerahkan tenaganya. Sama ketika warga muslim merayakan Idul Fitri maka warga beragama Hindu, Nasrani turut serta berpartisipasi.

Persisnya kapan hubungan harmonis antar warga yang berbeda etnis dan agama ini terjalin, Santi mengaku tidak tahu. Barangkali sejak orang tua mereka ada memilih tinggal di Kampung Kubur. Lantas sikap demikian terus diwariskan ke generasi berikutnya.

Tidak cuma itu, perkawinan campur pun kerap terjadi antar sesama warga kampung kubur. Istilahnya kawin antar tetangga. Ada orang Jawa menikah dengan keturunan India, orang keturunan Cina menikah dengan Padang. Santi contohnya. Ia menikah dengan orang keturunan India Pakistan dan telah dikarunia dua orang anak. Ada pula Sami yang menikah dengan perempuan asal Nias. Meski begitu menurut Santi dalam perkembangan kampung kubur, konflik karena perbedaan agama, etnis tak pernah terjadi. Masing-masing orang saling menghargai perbedaan.

Hal itu dibenarkan Ko Han, warga yang tinggal jalan Zainul Arifin. Sebagai bukti saat kerusuhan tahun 1998 berlangsung, warga keturunan Cina yang tinggal di sekitar kampung keling tidak mengalami imbas. Masyarakat kampung berjibaku menolong mereka supaya tidak menjadi korban kerusuhan. Padat memang penduduk kampung kubur. Padahal menurut  Ramli atau dikenal Cing Li, Kampung Kubur mulanya hanya dihuni 15 KK. Pertambahan penduduk kampung salah satunya dipicu karena banyak anak kost-kostan.

Tumbuhnya pusat perbelanjaan di sekitar kampung ternyata membawa dampak positif, masyarakat setempat memiliki uang tambahan dari bisnis kost-kostan. Ada pula yang menjual nasi dan membuka warung. Ko Han, salah satu warga yang meraup untung dari keadaan itu. Ia kebetulan tinggal di ruko. Lantai satu disulap menjadi rumah makan sedangkan lantai dua untuk kost-kostan.

Di tengah perubahan kampung yang begitu pesat, ada satu kebiasaan warga yang masih berjalan. Sampai sekarang mereka masih memanfaatkan Sungai Babura yang berada di belakang kampung tersebut untuk keperluan rumah tangga diantaranya mencuci pakaian, dan mandi. Warna air sungai yang tidak jernih lagi dan  berganti kecoklatan tidak mempengaruhi warga. Padahal sampah-sampah berserak di sepanjang sungai. Udin Tompel, satu dari warga kampung mengaku masih memanfaatkan air sungai. Ia sama sekali tidak pernah mengeluh gatal-gatal karena keruhnya air sungai.

*   *  *
Sisi Kelam Kampung Madras

Terlepas dari kepopuleran Kampung Madras, ada cerita kelam yang pernah ada disini. Lokasinya di sepanjang sungai babura yang kini menjadi pemukiman penduduk kampung kubur. Lembah, itu kata orang-orang. Tahun 1960an lokalisasi sederhana ini terbentuk. Tidak tahu siapa yang mendirikannya, tapi menurut Ko Han lokalisasi ini sangat terkenal. Berbagai orang dari pelosok negeri di Medan mendatanginya. Bahkan gaungnya sampai ke luar kota.

Terbius kepopuleran Lembah tak jarang membuat gadis dari luar kota nimbrung. Alhasil menurut Ko Han mereka bekerja di tempat lokalisasi tersebut. Ya, tempat inilah yang akhirnya menjadi gantungan hidup mereka.

Hari berganti bulan terus berganti tahun, Lembah dirasa makin berdenyut. Tak peduli siang sekalipun. Musik berdentum keras. Kalau malam tiba temaram lampu pijar makin membuat lembah semarak. Sudah mahfum, di area lokalisasi dibangun kedai minuman keras. Adalah jalan Tarumanegara yang menjadi sarangnya. Khusus kedai minuman kata Ko Han dikelola oleh warga kampung. Ternyata hasilnya tidak buruk. Kata Ko Han hampir setiap hari kedai minuman dipenuhi pelanggan. Salah satu pelanggan yang tidak mau ketinggalan untuk menikmati sensasi minuman yang bisa bikin kehilangan kesadaran yakni orang India. 

Minuman dalam kehidupan masyarakat India merupakan satu kesatuan dan sulit dilepaskan. Seperti semut dengan gula. Minuman dianggap wujud dari identitas dan simbol pergaulan. Kalau sudah minum tidak mabuk tidak klop. "Makanya tidak heran bila muncul istilah orang India kalau punya duit tidur parit, kalau gak punya duit tidur di rumah ha-ha-ha," ujarnya sambil terbahak. 

Tiba-tiba di sekitar tahun 1990an lembah ludes. Lokalisasi yang tengah berada di puncak ketenaran ini hangus di makan si jago merah. Seluruhnya habis. Tidak diketahui apakah lembah sengaja dibakar atau memang terbakar. Sejak itu Lembah tidak lagi dibangun. Praktis mereka yang hidup disini kehilangan mata pencaharian. Pelan-pelan Lembah pun diubah menjadi pemukiman penduduk dan kini semakin sumpek.