Selasa, 29 November 2011

Impian Sederhana

Impianku sederhana saat ini hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf pada sebanyak orang yang pernah kukenal dalam hidupku pada siapapun terutama ayah dan ibu. Terima kasih untuk hal-hal yang tak terkatakan dan maaf untuk hal-hal yang tak sanggup kujelaskan melebihi apapun.

Nasib

oleh: Maya Dewi Kurnia

Nasib seringkali tidak seperti tanda titik yang pasti melainkan kalimat yang menggantung.

Pergi

Bila aku pergi, aku berada di dunia kita masing-masing. Aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu. Tapi percayalah sebenarnya aku selalu bersama denganmu hanya mungkin kita tak melihat bulan yang sama dari balkon yang sama. Hidup memang seringkali harus dilanjutkan dengan cara yang tidak diinginkan.

Selasa, 01 November 2011

Tragedi Kamar Mandi

oleh : Maya Dewi Kurnia

Liburan kali ini memang sudah lama dinantikan Susi. Ia bahkan sudah membuat agenda liburan lengkap dengan daerah tujuan wisatanya. Disaat sebagian orang memilih berlibur ke tempat yang lebih tenang dengan pemandangan alam yang bagus seperti Lombok, Bunaken, Susi justru memilih berlibur ke Jakarta. Pilihan  itu bukan tanpa sebab karena terkait dengan keuangan. Kebetulan dari tempat tinggal Susi ke Jakarta tidak terlalu jauh butuh waktu sekitar 3 jam, biayanya juga bisa dijangkau. Soal tempat tinggal pun ia tidak perlu bingung lantaran ada sahabat yang siap menampung kedatangannya.
 
Meski Jakarta dekat dengan tempat tinggalnya tapi Susi baru pertama kesana. Kedatangannya kali ini adalah yang kedua. Berbagai persiapan ia lakukan tidak terkecuali menyiapkan obat anti mabok dan kantong plastik. Maklumlah ia acapkali muntah bila naik kenderaan  besar seperti bus.
 
Tiga jam berlalu akhirnya ia sampai di ibukota Negara, Jakarta. Lagi ia terpana dengan bangunan mewah yang menghiasi Jakarta. Telpon selulernya tiba-tiba berdering. Susi mengangkatnya kemudian berbicara dengan orang diseberang telpon. Ternyata, sahabatnya sedang memberikan petunjuk jalan menuju kantornya.

Setelah berganti dari satu bus way ke busway berikutnya, Susi pun sampai di kantor sahabatnya. Sebuah kantor media ternama di Jakarta. Kantor dengan desain yang menarik dan kesibukan orang-orang di dalamnya yang sungguh membuat ia terpana. Lambat ia memperhatikan sekeliling kantor hingga ia tidak mendengar ada orang menyebut namanya. Suara yang ia hafal betul.

Dari arah belakang, seseorang menepuk pundaknya dan berkata,” Akhirnya kamu tiba juga disini Sus”. Susi menoleh, keduanya berpelukan erat. “ Sus, aku kan pulang jam 5, sekarang masih jam 3 sore. Kamu nunggu di lobi aja ya, gimana Sus,” ujar Nita.

Susi mengangguk seolah mengamini. Sambil membaca majalah ia duduk di sebuah sofa empuk berwarna abu-abu di lobi kantor. Ia amat menikmati bacaan dan situasi di sekitarnya. Secangkir teh pun tak luput menjadi temannya.  

Saat ia sedang asyik membaca, tiba-tiba ia ingin ke toilet untuk buang air kecil. Karena buru-buru ia tidak memperhatikan keberadaan air, ember dalam toilet. Setelah usai BAK baru ia sadar dan kebingungan pun mengampirinya. Tapi Susi tidak kehilangan akal. Ia memutar sebuah tombol yang ada pada dinding kloset.

" Aduh," teriaknya kaget. Air menyemprot celana dalamnya. Ternyata dari dalam kloset ada sebuah pipa yang mampu mengeluarkan air bila tombol pada dinding kloset diputar. Fungsinya untuk membersihkan diri usai BAK. Namun karena tidak mengetahui cara pakainya alhasil Susi basah kuyub terutama celana dalamnya. Susi akhirnya melepas celana dalamnya, dan hanya memakai jeans. 

Seolah tidak terjadi apa-apa, Susi kembali ke lobi dan melanjutkan aktivitas sebelumnya. Lima menit pertama Susi tidak mengalami masalah, namun lima menit berikutnya, perutnya terasa kembung. Ac yang menyala kencang membuat ia kedinginan. Semua baru teratasi ketika jam pulang kantor tiba, Nita menemaninya membeli celana dalam baru.