Senin, 26 Desember 2011

Pesona Kawah Putih







Kawah Putih yang memikat dan menyisakan beragam cerita mistis. Meski begitu tidak melunturkan semangat orang-orang yang ingin menyaksikan kemolekannya.Kawah putih berada di Jawa Barat tepatnya di Desa Sugih Mukti kecamatan Pasir Bambu.









Senin, 19 Desember 2011

Mak

oleh: Maya Dewi Kurnia
Makan malam ini kupikir akan menjadi makan malam yang berat buatku. Lama aku merencanakan agar malam ini aku mampu mengungkapkan isi hatiku kepada Mak.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Itu tandanya sebentar lagi Mak akan keluar dari kamarnya dan memasuki ruang makan kami yang alakadarnya. Ruangan berukuran 2x3 dengan dinding batu bata yang belum diplester sekaligus disesaki dengan perkakas dapur. Sudah menjadi kebiasaan  tepat pukul 7.05 menit kami makan malam. Diatas meja, nasi lengkap dengan lauk pauk tempe dan sambal terasi sudah terhidang.  Perlahan, sesosok tubuh yang kukenal keluar dari peraduannya lalu berjalan mendekati kursi reot yang berada disampingku. Ia menggesernya kemudian duduk.

Temaram lampu tidak mengaburkan pandanganku akan Mak. Kulitnya kuamati mulai mengendur, Tubuhnya pun tidak lagi gagah seperti tiga tahun lalu. 

Malam itu Mak makan sangat lahap. Tempe dan sambal terasi yang kubuat mampu mengeluarkan peluhnya namun ia sangat menikmatinya. " Enak masakanmu hari ini Midah, Mak suka," ujarnya sambil tersenyum.  

Lima belas menit berlalu, keheningan yang menjadi tradisi ketika makan berganti dengan keriuhan. Usai makan waktunya sesi berbagi cerita dimulai. Biasanya kami saling bertanya, mengutarakan pengalaman  selama satu hari itu dari menyenangkan hingga yang buruk. Tawa dan tangis menjadi hal yang lumrah ketika tradisi yang selalu dinantikan itu berlangsung.

Mak memulai ceritanya dari rempeyek yang ia buat laku terjual seluruhnya. Dia bersemangat dan mengatakan secara berulang bahwa yang memborong rempeyek buatannya seorang  pemuda tampan yang ingin menghadiahkan cemilan itu untuk ayahnya. Ekspresi wajah senang Mak berlanjut ketika ia memuji pemuda tampan yang terlihat sukses itu sangat memperhatikan orang tuanya.

"Mak pun ingin diperlakukan seperti itu," celetuknya tiba-tiba.  "Bukan harta yang Mak inginkan tapi perhatian saja cukup. Nanti kalau kau sudah menikah dan pergi dari rumah ini, sering-sering kau lihat Mak ya," lanjutnya. Mendengarnya seperti ada batu besar yang menimpaku.  Seluruh tubuhku mengeras kaku.

Kebimbangan mendera. Aku ragu untuk menjalankan niatku semula. Aku terdiam sesaat.
" Midah, kenapa kau diam," tegur Mak.
" Midah, oh Midah kau melamun," sambungnya.
" Tidak Mak," ucapku terkejut .
" Sekarang giliranmu menceritakan pengalaman hari ini,," ujarnya lagi.
" Mak," panggilku lembut
" Mak, bolehkah Midah bilang sesuatu," tanyaku ragu
" Bilanglah, jangan kau takut," balasnya
Mak sepertinya tahu betul wajah bimbangku. Tatapan matanya yang terus tertuju ke arahku dan justru makin membuatku tak kuat berkata. " Tuhan bantu aku mengungkapkan kejujuran dan keinginan hatiku kepada Mak," lirihku dalam hati.
" Mak, boleh Midah kerja," tanyaku
" Bolehlah, bukankah kau sekarang sudah bekerja," ucap Mak.
" Kerja di luar negeri maksudku Mak," kataku

Mak yang semula ingin menyeruput teh manisnya tiba-tiba berhenti. Ia melongoh, diletakannya kembali gelas yang sedari tadi dipegangnya.  Wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan ekspresi senang atau pun sebaliknya. Entahlah aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Mak saat itu. Sepuluh menit kami hanya saling pandang. Aku menangkap ada amarah yang tertahan dari mata Mak. Di luar suara jangkring mengerik, angin berdesir kencang suasana pun dirasa makin sepi dan dingin. Dan  Mak masih bertahan dalam diamnya. Mak yang tadi garang melihat ku lambat-lambat menunduk.

"Mak, setujunya kalau Midah kerja di luar negeri?, " tanyaku pelan
" Mak, jawab Mak," ujarku memaksa.
"Kenapa harus keluar negeri kau bekerja, bukankah disini kaupun bekerja Midah, - tanya Mak gemetar.

"Aku memang disini bekerja tapi penghasilanku kecil Mak. Aku ingin membelikan Mak rumah yang layak, aku ingin bisa membawa Mak naik haji. Aku ingin Mak bisa menikmati masa tua dengan senang sehingga tidak peru repot berkeliling kampung menjual rempeyek. Aku ingin membahagiakan Mak," ujarku tanpa jeda. Hasrat yang membuncah membuatku berani mengutarakan semuanya kepada Mak. Meski setelah itu jantungku berdegup kencang dan air mata mengalir deras di pipi.

Mak tiba-tiba bangkit dan berujar," Kau tahu Midah,  aku puas dengan keadaan yang ada".
Mak menutup pembicaraan tersebut dengan sebuah kalimat yang singkat dan pergi meninggalkanku. Ia memilih berjalan ke kamar lalu berbaring di atas kasur yang penuh dengan gumpalan kapas.

Mak menutup matanya dalam. Ia berharap bisa menahan laju air mata. Sayang, air mata itu terus mengalir membanjiri bantal dan pakaian lusuh Mak. Mak berharap bisa segera tertidur dan melupakan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun pikirannya melayang 23 tahun silam, saat pertama Midah hadir di tengah kehidupannya. Ia lahir setelah dua tahun perkawinan Mak dengan seorang pria sederhana bernama Rasyid. Kehadiran Midah melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Meski dengan kesederhanaan tapi Midah dirawat dengan kasih sayang dan perhatian. Empat tahun setelah kehadiran Midah, Rasyid suami Mak meninggal akibat sakit lever.

Sejak itu kehidupan dirasa makin sulit, Mak berjuang sendiri untuk membesarkan Midah dan menyekolahkannya sampai SMA. Keduanya sangat dekat, mereka melalui cerita indah dan sedih bersama.

Kini, tiba-tiba Midah ingin meninggalkannya. Mak belum bisa mengerti alasan Midah ingin pergi bekerja di luar negeri. " Mak tidak meminta apapun dari Midah, Mak cuma ingin bersamamu," lirih mak. Tapi Mak tahu betul keinginan dan watak anak semata wayangnya.

Midah masih setia di bangku tempat semula ia duduk. Matanya mulai membengkak karena sedari tadi menangis.

"Aku tahu Mak tidak menyetujui keinginanku tapi aku sudah tidak mungkin mundur. Aku sudah mendaftar. Tanpa sepengetahuan Mak aku sudah menyerahkan tabunganku untuk mendaftar menjadi tenaga kerja Indonesia. Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk bekerja di luar negeri," ujarnya dalam hati.

***

Hari ini tepat jam 10 pagi Midah akan meninggalkan kampungnya dan bertolak ke Jakarta. Rencananya seminggu di Jakarta Midah langsung dibawa ke Jeddah, Arab Saudi.
Semua sudah dimasukan Midah, jangan ada yang ketinggalan. Mukena, dan sajadah sudah kau masukan ke tasmu?" tanya Mak.

Jangan tinggalkan sholatmu ya? Baik-baik kau disana," ujar mak lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Midah tinggalkan hp ini untuk Mak. Jadi Midah bisa menghubungi Mak kapan saja, Mak baik-baik ya, jaga kesehatan Mak, Midah akan kembali. Maafkan Midah Mak," ungkapnya berhadapan dengan Mak. Mereka saling menatap.

Keduanya berpelukan. Midah pun tak kuasa menahan air matanya.
Dari luar terdengar suara orang mengetuk pintu. "Asalamualaikum. Apa betul ini rumah Midah Al Rasyid," tanya pria di luar.

" Walaikumsalam", Jawab Midah.
Midah ternyata mengenali pria berkumis yang berdiri di pintu rumahnya. Ia adalah salah satu pegawai dari perusahaan penyalur tenaga kerja yang akan memberangkatkan Midah ke luar negeri.

"Mak, Midah berangkat ya?", ujarnya sambil mencium tangan Mak.  Ada perasaan yang tidak mengenakan tiba-tiba menyergap  hatinya. Namun ia berusaha melangkah keluar rumah dengan percaya diri. Dari kejauhan ia mengamati tubuh mungil Mak yang berdiri sambil melambaikan tangan. Teringat masa indah saat tidur bersama Mak. Midah memeluknya erat, mencium aroma minyak goreng yang selalu membuatku rindu. "Akh Mak, semoga kita bertemu lagi," ungkapnya dalam hati.
****

Kring.kring..suara hp berdering nyaring.
" Assalamualaikum. Mak, sedang apa? Ini Midah mak. Bagaimana keadaannya Mak?," suara dari seberang telepon menyapa.

" Oh kau Midah, senang mak mendengar suaramu," jawab Mak.
Keduanya larut dalam percakapan yang hangat. Mereka saling melepas rindu. Midah bersemangat menceritakan pengalamannya di Jeddah. Ia mengatakan pada mak majikan tempat ia bekerja baik. Mendengar cerita Midah mak jadi lega. 

Tak terasa sudah 20 menit berlalu dan Midah bergegas menutup telepon. Sebelum pembicaraan dihentikan Mak  berpesan," jaga dirimu Midah, jangan lupa sholat. Mak merindukanmu". Mak menutup telepon dengan tersenyum, kegembiraan tergambar jelas dari wajahnya. Di bulan keempat Midah di Jeddah, ia menghubungi Mak lagi.

Pembicaraan keduanya berlanjut. Sesekali Mak tertawa hingga dari seberang telepon tiba-tiba Midah mengatakan, "Mak, gaji Midah selama disini sudah Midah kirim, tolong disimpan. Oia, bulan depan Midah akan jarang menelpon Mak. Midah sedang banyak kerjaan, Mak jangan khawatir ya". Raut wajah Mak berubah. " Iya Midah, tak apa, Mak selalu mendoakanmu, Nak. Jaga dirimu. Mak akan menunggumu disini?" ujarnya lagi. Sejenak pembicaraan berhenti.
"Midah menyayangi mak," ujar Midah.

Kalimat itu berat dirasa oleh bagai sebuah pertanda buruk. Tapi Mak berusaha menepis kegalauan hatinya. Tiga bulan berlalu Mak mulai cemas. Midah tidak pernah menghubunginya, Mak juga tidak bisa menelponnya.

Sampai sebuah tayangan di televisi menyebutkan salah satu tki ditemukan di jembatan Kandara, Jeddah tewas mengenaskan dengan tubuh lebam. Kecemasannya makin menjadi tatkala dalam tayangan berita itu ditampilkan sebuah foto wanita tak berkerudung yang mulai usang dan mak mengenalinya sebagai Midah. Mak berurai air mata. Ia menangis. Hatinya hancur. Sebuah kalimat terlontar " Mak menyayangimu Midah,". (terbit 18 Desember 2011 di harian Medan Bisnis)
0

Selasa, 06 Desember 2011

Juara

oleh: Fahd Djibran
Kebahagiaan adalah soal bagaimana kita menjadi juara bagi diri kita sendiri. Maka, jadilah juara bagi dirimu sendiri. Yakinlah, teruslah melangkah, jangan biarkan dirimu dikalahkan rasa takut dan ragu. Sebab, setiap orang adalah juara bagi dirinya sendiri.

Jumat, 02 Desember 2011

Hidup

Kau kecewa hari ini nak, kau merasa kalah hari ini? Kau merasa hidupmu tidak sehebat yang kau bayangkan. Tenanglah nak, hidup tidak melulu tentang kebahagiaan.Kadang-kadang kita lupa bahwa saat kita merasa kalah dan kecewa sesungguhnya merupakan saat terkuat kita.