Rabu, 28 September 2011

R I N D U

Bintang tidak muncul malam ini serupa bulan yang masih malu-malu bersembunyi di balik awan. Di luar sana hiruk pikuk orang lalu lalang bersamaan dengan deru kenderaan yang menggaduh. Sementara aku hanya termangu sendiri sambil mengamati tiap sudut ruangan 3x3 m. Ada kehampaan menyergap.Hmm..andai malam ini kau ada disini tentu ceritanya akan berbeda. Lintang, ibu rindu nak.

Selasa, 27 September 2011

Merantau Tradisi Minang Yang Abadi

oleh Maya Dewi Kurnia


Jangan heran bila melihat rumah makan padang  ada di Cirebon, Balikpapan bahkan Papua. Di luar negeri seperti Australia pun rumah makan padang telah berdiri. Ini seolah mempertegas  eksistensi masyarakat minang di pelosok negeri.
Berpindah dari kampung halaman ke daerah lain dalam tradisi masyarakat minang bukan hal yang baru. Tradisi yang tumbuh dan berkembang sejak berabad silam dikenal dengan nama merantau. Salah satu pantun yang menguatkan keunikan tradisi ini berbunyi:

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau Bujang dahulu
Di kampuang baguno balun


(Keratau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau Bujang dahulu
Di kampung berguna belum)

Pantun ini mengungkapkan bahwa dalam  konsep budaya alam  minang dikenal wilayah  inti dan rantau. Rantau secara tradisional merupakan wilayah ekspansi, daerah perluasan. Seiring perkembangannya konsep rantau dilihat sebagai sesuatu yang menjanjikan harapan untuk masa depan yang lebih cemerlang dan mencapai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Merantau pada dasarnya memiliki tiga tujuan penting yakni mencari harta(berdagang), mencari ilmu, atau mencari pangkat.
Dalam alam pikiran masyarkat minang, kampung halaman atau tanah kelahiran ibaratnya persemaian yang berfungsi untuk menumbuhkan bibit. Setelah bibit tumbuh, mereka harus keluar dari persemaian ke lahan yang lebih luas agar menjadi pohon yang besar kemudian berbuah. Proses seperti inilah yang dialami dan kemudian terlihat pada tokoh-tokoh asal minang yang berkiprah di “dunia” yang jauh lebih luas seperti Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Hamka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, atau generasi yang lebih belakangan lahir, tumbuh, mengalami masa kecil dan remaja di kampung, lalu pergi merantau dan “menjadi orang”.
Tradisi merantau nyatanya tidak saja dilakukan oleh masyarakat minang tapi juga suku lain seperti batak, bugis, madura. Namun merantau masyarakat minang berbeda dengan suku lainnya. Masyarakat minang merantau dengan kemauan dan kemampuan sendiri. Mereka yakin proses ini semacam penjelajahan hijrah untuk membanngun kehidupan yang lebih baik. Keyakinan inilah yang membuat mereka bertahan di rantau bahkan menjadi lebih besar. Selain itu juga didukung oleh kemampuan masyarakat minang yang tinggi dalam beradaptasi dengan lingkungan ditambah kemampuan berkomunikasi yang baik. Ini sesuai dengan ungkapan yang merupakan falsafah hidup masyarakat minang “ di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung atau di kandang kambing mengembek, di kandang kerbau mengo’ek”.
            Sepanjang sejarahnya, orang Minang di perantauan tidak pernah terlibat konflik dengan masyarakat di manapun mereka berada. Ini karena budaya dan perilaku hidup mereka yang yang terbuka, tidak eksklusif, dan hidup membaur dengan masyarakat setempat. Di mana pun rantaunya, orang Minang tidak pernah membuat “kampung”. Tidak ditemukan ada Kampung Minang di kota-kota di mana perantau Minang jumlahnya cukup banyak. Sebaliknya, di kampung halamannya sendiri mereka memberikan “kampung” kepada para pendatang, termasuk kepada orang Cina. Di Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh ada Kampung Cino (Cina), di Padang dan Solok ada Kampung Jao (Jawa), atau Kampung Keling di Padang dan Pariaman.
             Karena daya adaptasi, kemampuan menyesuaikan diri, yang tinggi itu, mereka pun diterima oleh masyarakat di mana mereka berada. Mereka diterima menjadi pemimpin formal maupun informal di rantaunya masing-masing. Sebutlah, misalnya, Mr. Datuk Djamin yang menjadi Gubernur Jawa Barat yang kedua (1946);  Gubernur Maluku yang kedua dan ketiga, yakni Muhammad Djosan (1955-1960)
 Tahun berganti, zaman berubah namun tradisi syarat makna tersebut masih tetap berlangsung hingga sekarang. Generasi minang masa kini toh nyatanya berlomba-lomba melakoninya. Semoga tradisi ini membuat kita tidak melupakan kampung halaman sebagai tempat awal kita berpijak.

Kearifan Lokal Dalam Sepotong Rendang

oleh : Maya Dewi Kurnia

Siapa yang tidak mengenal rendang?  Makanan khas minang dengan potongan daging berbumbu dengan citarasa pedas ini amat terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Banyaknya rumah makan padang yang menyediakan menu ini turut berperan mempopulerkannya.  
Menurut Cable News Network di Amerika Serikat dan dilansir oleh laman www.cnngo.com, hidangan  racikan urang awak ini mendapati peringkat 11 dari  50 daftar makanan terenak  di dunia.
Bila ditelusuri sejarah kehadiran rendang sudah lama ada namun belum jelas tahun munculnya. Hanya dalam Hikayat Amir Hamzah tahun 1550, rendang sudah disebut. Ini bukti rendang pun akrab dalam lingkungan kerajaan dan masyarakat melayu.  
Menurut jenisnya rendang dibagi menjadi  tiga. Ada rendang darek, rendang bukik dan rendang payakumbuh. Perbedaan itu berangkat dari nama daerah rendang itu dibuat. Masing masing daerah memiliki cara pengolahan dan penampilan yang unik. Rendang darek misalnya memiliki warna hitam.
Darek (atau ‘darat’ dalam bahasa minang) merupakan sebutan wilayah perbukitan di minangkabau. Wilayahnya mencakup beberapa kabupaten/kota yang berada di kaki bukit barisan, seperti Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan wilayah sekitarnya. Di minangkabau, darek juga biasa disebut Luhak Nan Tigo (luhak yang tiga). Wilayah darek adalah tempat berasalnya adat minang.
Dalam perkembangan adat mingkabau dan islam, rendang telah memberikan andil. Rendang bahkan menjadi penanda pertemuan dua kutub tersebut. Islam datang dari pesisir pantai barat. Sedangkan adat minang berangkat dari darat. Perjumpaan ini menghasilkan falsafah yakni “syara mandaki, adat manurun “ ( agama mandaki, adat menurun). Hal ini bermakna bahwa agama islam yang berasal dari pesisir mengalami perkembangan dengan mendaki ke darat. Sedangkan adat minangkabau yang berasal dari darat bergerak “menurun” kearah pesisir. Pertemuan adat minang dan islam inilah yang kemudian menghadirkan falsafah ” adat basandi syara’, syara’basandi kitabullah” (adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah)
Rendang memang telah menjadi simbol peralihan kultur masyarakat minang yang hidup di pesisir pantai barat Sumatera yang semula lebih kerap menyantap ikan dibandingkan daging. Rendang pun telah menjadi santapan komunal masyarakat minangkabau dimanapun berada terlebih ketika perayaan besar berlangsung seperti Idul Fitri, Idul Adha. Sedangkan dalam baralek (pesta pernikahan) rendang menjadi kapalo samba (lauk utama) yang disiapkan para mande (ibu).
Namun lebih daripada itu, rendang menjadi identitas masyarakat minagkabau. Sebab tiap unsur dalam rendang bermakna dan merepresentasikan elemen dalam masyarakatnya.  Dagiang (daging) sebagai lambang ninik mamak (para pemimpin adat), karambia (kelapa) sebagai lambang cadiak pandai (kaum intelektual), lado (cabe) sebagai lambang alim ulama yang pedas dan tegas, serta pemasak (bumbu) sebagai pelengkap yang merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat minang. Mereka mempercayai bahwa untuk menciptakan kesejahteraan, dibutuhkan perpaduan empat unsur itu secara seimbang.
Oleh karena itulah sudah sepatutnya generasi muda minangkabau tetap melestarikannya. Tidak sekedar menyediakannya dalam sebuah perhelatan lalu menyantapnya tapi menyadari betul hakikat dari rendang.

Selasa, 13 September 2011

Pulang

Banyak kenangan terkubur disana bukan saja yang menyenangkan, tapi juga memilukan tidak terkecuali doa dan harapan yang pernah kutanam. Kini setelah sekian lama ku berjalan ku merindukannya. Merindukan rumah dengan senyum hangat dari ayah dan ibu yang menyambut kedatanganku. Dan aku ingin pulang meski kutahu semua telah berubah.